TANGERANG — Persoalan keluarga, keterbatasan ekonomi, hingga kesehatan tidak seharusnya mematikan mimpi anak-anak. Pesan itu dibawa Sofiyatul Zannah dari Kecamatan Cisauk setelah terpilih sebagai Duta Anak Kabupaten Tangerang 2026, melalui gagasan program Naraya (Nafas Baru Anak Berdaya).
Sofiyatul ingin Naraya menjadi ruang berbagi informasi dan penyemangat bagi anak-anak agar tetap berani berkembang di tengah berbagai keterbatasan. Ia juga berencana memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan program sekaligus membantu teman sebaya mempersiapkan diri menghadapi perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Melalui Naraya, saya ingin menyampaikan kepada teman-teman bahwa masalah keluarga, ekonomi, maupun kesehatan bukan menjadi penghalang untuk berkembang dan meraih cita-cita,” ujar Sofiyatul.
Pemilihan Duta Anak Kabupaten Tangerang digelar Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Dinas Perlindungan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DPPPA) di aula kantor dinas tersebut, Kamis (15/10/2026). Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah, membuka kegiatan bertema “Bergerak Bersama Melestarikan Budaya dan Permainan Tradisional”.
Intan menegaskan bahwa ajang ini bukan sekadar kompetisi, melainkan sarana membentuk karakter dan mendorong keterlibatan anak dalam isu pemenuhan hak serta perlindungan anak. Ia berharap para duta terpilih dapat menjadi teladan, menyampaikan aspirasi teman sebaya, serta ikut mengedukasi anak-anak mengenai pencegahan perundungan, kekerasan, dan penggunaan media sosial secara bijak.
Menurut Intan, pemenuhan hak anak membutuhkan dukungan bersama, mulai dari keluarga, pemerintah, lingkungan pendidikan hingga masyarakat. Anak-anak berhak memperoleh pendidikan dan layanan kesehatan yang layak, perlindungan dari kekerasan, serta kesempatan untuk menyampaikan pendapat.
Kepala Bidang Pengelolaan Data Gender dan Pemenuhan Hak Anak DPPPA Kabupaten Tangerang, M. Farid Ma’aruf, menjelaskan bahwa seleksi tahun ini diikuti 97 peserta dari 29 kecamatan. Sebanyak 35 finalis kemudian mengikuti tahapan lanjutan hingga terpilih enam besar Duta Anak dan perwakilan klaster pemenuhan hak anak. Penilaian mencakup bakat seni, kemampuan berbicara di depan umum, penampilan bakat, serta kesiapan menjalankan peran sebagai pelopor dan pelapor isu hak anak.
Farid berharap para duta tidak berhenti sebagai simbol atau ikon daerah. Mereka direncanakan berkolaborasi dengan perangkat daerah sesuai klaster masing-masing agar aspirasi anak dapat diterjemahkan menjadi kegiatan yang nyata. Di sisi lain, gagasan pelestarian permainan tradisional diharapkan tetap relevan bagi generasi yang semakin akrab dengan perangkat digital.
Bagi Sofiyatul, budaya tradisional dan teknologi bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan melalui edukasi kreatif, pemanfaatan media digital, dan kegiatan yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Tantangannya adalah memastikan informasi yang disebarkan benar-benar bermanfaat, aman, dan mudah dipahami oleh teman sebaya.
Keberhasilan Duta Anak Kabupaten Tangerang 2026 pada akhirnya akan terlihat dari dampak program mereka: semakin beraninya anak menyampaikan aspirasi, meningkatnya kesadaran terhadap hak dan perlindungan anak, serta terbukanya ruang bagi generasi muda untuk tumbuh tanpa kehilangan akar budaya. (Red)





