BerandaEkbisIHSG Kembali Menghijau, Investor Masih Dibayangi Gejolak Pasar

IHSG Kembali Menghijau, Investor Masih Dibayangi Gejolak Pasar

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Rabu (21/10/2026) di zona hijau. Indeks menguat 49,47 poin atau 0,94 persen ke level 5.328,36, memberikan sinyal pemulihan setelah pasar saham Indonesia mengalami tekanan tajam dalam beberapa sesi sebelumnya.

Berdasarkan data perdagangan yang dilaporkan detikFinance dan Katadata, IHSG sempat turun ke level 5.185,36 sebelum kembali menguat hingga penutupan. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp17,89 triliun dengan volume perdagangan mencapai 35,06 miliar saham.

Pergerakan saham masih berlangsung dinamis. Data RTI Business yang dikutip sejumlah media mencatat 369 saham menguat, 308 saham melemah, dan 116 saham stagnan. Artinya, meski indeks ditutup positif, tekanan jual masih terjadi pada ratusan saham sehingga pemulihan belum merata.

Dari sisi sektoral, sembilan dari sebelas sektor saham menguat. Sektor kesehatan memimpin dengan kenaikan 3,35 persen, disusul properti sebesar 1,77 persen dan infrastruktur 1,47 persen. Sebaliknya, sektor teknologi terkoreksi 1,12 persen dan industri turun 0,59 persen.

Di jajaran saham dengan kenaikan terbesar, STRK melonjak 34,31 persen ke Rp137, sementara SOLA naik 33,90 persen ke Rp79 dan IPTV menguat 26,32 persen. Sebaliknya, AMMS merosot 9,40 persen, PGJO turun 8,54 persen, dan LUCY melemah 8 persen. Pergerakan saham-saham tersebut tidak serta-merta mencerminkan kondisi seluruh pasar.

Sentimen positif turut datang dari keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen setelah Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Oktober 2026. Namun, BI juga menaikkan suku bunga deposit facility menjadi 5 persen, sedangkan lending facility tetap 6,5 persen.

Associate Director of Research Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai langkah regulator untuk memperbaiki kepercayaan investor menjadi salah satu faktor yang menopang penguatan pasar. Penyesuaian terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dan peningkatan keterbukaan informasi pemegang saham turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Meski demikian, kenaikan 0,94 persen hari ini perlu dibaca secara hati-hati. IHSG sebelumnya sempat melonjak 5,65 persen pada Selasa (20/10/2026), setelah mengalami tekanan besar pada sesi-sesi sebelumnya. Perubahan tajam tersebut menunjukkan bahwa volatilitas masih menjadi risiko penting bagi investor.

Bagi investor ritel, termasuk yang memburu saham perbankan seperti BBRI, BBCA, dan BMRI, penutupan positif IHSG belum cukup untuk menjadi dasar membeli saham secara terburu-buru. Perlu diperhatikan pula pergerakan harga masing-masing emiten, volume transaksi, keterbukaan informasi, dan kesesuaian harga dengan tujuan investasi. (Red)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru