Selasa, Februari 17, 2026
spot_img
BerandaOpiniNGOPI RUWAH ala Semanggi Center Cikokol

NGOPI RUWAH ala Semanggi Center Cikokol

Di Semanggi, Ruwahan tidak pernah sekadar agenda menjelang Ramadhan. Ia bukan hanya tentang mengirim doa kepada mereka yang telah lebih dulu pulang, bukan sekadar menyebut nama-nama yang kini tinggal sebagai gema di batu nisan dan ingatan. Ruwahan di sini adalah kerja sunyi menyatukan yang tercerai, bukan hanya ruh orang-orang yang telah wafat, tetapi juga ruh kita yang masih hidup namun sering tercerabut dari dirinya sendiri.

Dalam tradisi Jawa-Islam, bulan Ruwah, menjelang Ramadhan, memang lekat dengan doa untuk leluhur, pembacaan Yasin, tahlil, dan ziarah kubur. Ia tumbuh dari perjumpaan panjang antara dakwah para wali dan kebudayaan lokal yang telah lebih dulu akrab dengan penghormatan pada arwah dan ingatan kolektif. Namun di Semanggi, maknanya meluas, yang dipanggil bukan hanya mereka yang sudah tiada, tetapi juga kita yang masih ada, yang setahun ini mungkin berjalan terlalu jauh dari satu sama lain.

Sebab hidup modern membuat kita sering bertemu tanpa benar-benar berjumpa. Kita bersalaman, tetapi menyimpan ganjalan. Kita duduk satu meja, tetapi hati kita sibuk dengan luka kecil yang tak sempat diberi nama. Setahun penuh, ada salah paham yang mengendap, ada kalimat yang terucap terlalu tajam, ada harapan yang tak tersampaikan. Semua itu menjadi serpihan-serpihan rasa.

Ruwahan adalah momen mengumpulkan serpihan itu.

Di Semanggi, orang-orang datang bukan dengan pakaian terbaik, tetapi dengan niat yang dirapikan. Tikar digelar. Nasi sederhana disiapkan, tidak berlebih, tidak pula kekurangan. Lauknya mungkin biasa saja, tapi di sanalah kehangatan menemukan bentuknya. Di tengahnya, kopi mengepul pelan, seperti doa yang tidak tergesa-gesa.

Kopi dan nasi sederhana itu bukan sekadar jamuan. Ia simbol kesediaan untuk duduk sejajar. Tak ada hierarki dalam lingkaran Ruwahan. Yang tua, yang muda, yang pernah berselisih, yang jarang bertegur sapa, semuanya duduk dalam jarak yang sama dari piring dan dari doa.

Di situ, ruh-ruh yang masih hidup saling disentuhkan kembali.

Kita sering mengira ruh hanya milik yang telah meninggal. Padahal yang hidup pun bisa kehilangan ruhnya: kehilangan semangat, kehilangan arah, kehilangan kejernihan niat. Ruwahan menjadi semacam reposisi batin. Kita menyebut nama-nama leluhur, tapi diam-diam kita juga sedang memanggil diri sendiri yang tercecer.

Ada momen ketika doa dilantunkan, dan sunyi turun perlahan. Sunyi itu bukan kosong. Ia penuh oleh kesadaran bahwa kita rapuh. Bahwa setahun ini kita mungkin terlalu sibuk menjadi benar, dan lupa menjadi baik. Terlalu sibuk mengejar urusan dunia, dan lupa bahwa dunia ini sendiri hanyalah ruang singgah.

Ruwahan di Semanggi adalah latihan merendahkan ego sebelum memasuki Ramadhan.

Sebab Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang membersihkan ruang dalam diri agar cahaya bisa masuk tanpa terhalang dendam dan kesombongan. Bagaimana mungkin kita berharap ampunan turun, jika kita sendiri belum saling memaafkan? Bagaimana mungkin kita ingin hati menjadi lapang, jika kita masih menyimpan ganjalan pada sesama?

Maka di sela-sela tegukan kopi, seringkali ada senyum yang lebih jujur. Ada tangan yang lebih lama berjabat. Ada kalimat sederhana, “Kalau ada salah, mohon maaf,” yang terdengar ringan tapi membawa beban setahun untuk dilepaskan.

Ruwahan bukan sekadar ritual untuk yang sudah tiada. Ia adalah rekonsiliasi bagi yang masih ada.

Ia mengikat kembali rasa yang mungkin tergores oleh pertemuan-pertemuan yang tak sempurna. Ia menyulam ulang kepercayaan yang sempat renggang. Ia menyatukan hati yang sempat berjalan sendiri-sendiri.

Dan ketika malam usai, ketika nasi telah habis dan kopi tinggal ampas, yang tersisa bukan hanya kenyang di perut. Yang tersisa adalah kesiapan batin.

Kesiapan untuk memasuki Ramadhan sepenuh akal, dengan kesadaran bahwa puasa bukan rutinitas tahunan, melainkan perjalanan pulang. Dan sepenuh keikhlasan, bahwa kita datang kepada Tuhan bukan sebagai manusia yang bersih, tetapi sebagai manusia yang mau dibersihkan.

Di Semanggi, Ruwahan adalah titik temu: antara yang hidup dan yang telah pergi, antara luka dan maaf, antara dunia yang riuh dan hati yang ingin teduh.

Ia mengajarkan bahwa sebelum kita meminta ampunan ke langit, kita perlu lebih dulu merapikan bumi di antara kita.

Dengan kopi yang mengepul. Dengan nasi yang sederhana. Dengan doa yang pelan tapi sungguh-sungguh.

Dan dengan hati yang akhirnya kembali duduk bersebelahan.

MAAF LAHIR BATIN dari kami semua MAZHAB TJIKUKUL…

 

Penulis: Mukafi ‘Miing’ Solihin

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru