TANGERANG — Awal tahun 2026 menjadi periode yang nyaris tanpa jeda bagi Suryani (48). Pedagang sembako dan pernak-pernik musiman di kawasan Pasar Lama Tangerang itu baru saja menikmati lonjakan penjualan saat Imlek, kini kembali sibuk menyusun karung gula dan dus minyak goreng untuk menyambut Ramadan. Baginya, dua perayaan besar ini seperti dua musim panen yang datang beriringan.
Saat Imlek, lapaknya berubah warna. Hiasan merah, jeruk, hingga kue keranjang mendominasi etalase. “Omzet bisa naik hampir dua kali lipat dibanding hari biasa,” ujarnya. Dalam sepekan menjelang perayaan, pelanggan lama berdatangan, disusul pembeli baru yang ingin merasakan atmosfer khas kawasan pecinan.
Belum sempat menarik napas panjang, Suryani memutar strategi. Ia mengganti komoditas musiman dengan kebutuhan pokok yang identik dengan Ramadan: gula, minyak, tepung, sirup, hingga bahan kue. “Kalau Imlek ramainya beberapa hari, Ramadan bisa hampir sebulan. Perputarannya lebih panjang,” katanya.
Cerita serupa datang dari Rahmat (35), pedagang makanan ringan yang lapaknya tak jauh dari Suryani. Saat Imlek, ia menawarkan camilan khas dan paket hantaran sederhana. Memasuki Ramadan, etalasenya dipenuhi kurma dan aneka takjil. “Dua-duanya sama-sama mengangkat penjualan. Bedanya, Ramadan lebih merata pembelinya,” tuturnya.
Meski merasakan berkah, para pedagang tak lepas dari kekhawatiran. Lonjakan permintaan kerap diikuti kenaikan harga cabai, telur, hingga minyak goreng. Jika harga terlalu tinggi, daya beli masyarakat bisa tertahan. “Kami berharap stok aman dan harga stabil supaya pembeli tetap belanja,” ujar Suryani.
Bagi pelaku UMKM kecil, dua momentum ini bukan sekadar perayaan, melainkan penopang ekonomi keluarga. Hasil dari Imlek dan Ramadan kerap menjadi cadangan untuk bulan-bulan berikutnya, ketika transaksi kembali normal.
Pegiat social dan ekonomi, Ibrohim, menilai berdekatannya Imlek dan Ramadan berpotensi menjaga perputaran uang pada kuartal pertama 2026. Imlek mendorong konsumsi komunitas tertentu dan wisata belanja, sementara Ramadan berdampak luas pada hampir seluruh lapisan masyarakat.
“Namun, tantangan pengendalian inflasi tetap menjadi pekerjaan rumah. Pemerintah daerah diharapkan memastikan distribusi dan pasokan komoditas strategis berjalan lancar agar harga terkendali. Jika itu terjaga, dua ‘musim panen’ di awal tahun ini tak hanya menguatkan UMKM, tetapi juga menjaga denyut ekonomi lokal tetap stabil,” pungkasnya. (jn)





