Selasa, April 7, 2026
spot_img
BerandaBantenTangerang SelatanKasus DBD Turun di Tangsel, Tapi Warga Diminta Jangan Lengah

Kasus DBD Turun di Tangsel, Tapi Warga Diminta Jangan Lengah

TANGSEL – Kabar baik datang dari Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Hingga awal April 2026, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tercatat sebanyak 128 kasus tanpa adanya laporan kematian. Angka ini menunjukkan tren penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, namun kewaspadaan tetap menjadi kunci.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar, mengungkapkan bahwa data tersebut merupakan akumulasi sejak 1 Januari hingga 5 April 2026. Rinciannya, Januari tercatat 35 kasus, Februari 38 kasus, Maret 40 kasus, dan awal April sebanyak 15 kasus.

“Totalnya 128 kasus dan tidak ada kematian. Ini tentu menjadi indikator positif, namun tetap harus kita jaga agar tidak kembali meningkat,” ujar Allin dalam keterangannya Senin (06/04/2026).

Jika dibandingkan dengan tahun 2025, penurunan ini tergolong drastis. Pada periode Januari hingga Maret tahun lalu saja, kasus DBD sudah mencapai 209 kasus. Bahkan sepanjang 2025, total kasus menyentuh angka 648, menunjukkan bahwa ancaman penyakit ini sempat berada pada level yang cukup mengkhawatirkan.

Meski tren menurun, penyebaran kasus masih terjadi di hampir seluruh wilayah. Kecamatan Serpong menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi yakni 29 kasus, disusul Pamulang 24 kasus, Ciputat 23 kasus, Pondok Aren 22 kasus, Serpong Utara 14 kasus, Setu 13 kasus, serta Ciputat Timur 3 kasus.

Allin menegaskan, penurunan ini tidak terjadi begitu saja. Upaya masif terus dilakukan melalui program “Satu Rumah Satu Jumantik” yang mendorong masyarakat aktif memantau dan memberantas jentik nyamuk di lingkungan masing-masing.

Selain itu, petugas kesehatan bersama kader juga rutin melakukan pemeriksaan jentik melalui metode silent survey, yakni inspeksi langsung ke lingkungan warga tanpa pemberitahuan sebelumnya. Program ini diperkuat dengan sertifikasi wilayah berbasis RW bebas jentik sebagai bentuk evaluasi sekaligus motivasi masyarakat.

“Pendekatan ini bukan hanya soal pengawasan, tetapi bagaimana membangun kesadaran kolektif. Kita ingin masyarakat menjadikan kebersihan lingkungan sebagai budaya, bukan sekadar respons saat ada kasus,” jelasnya.

Sementara itu, berdasarkan imbauan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, perubahan cuaca dan meningkatnya intensitas hujan dapat memicu perkembangan nyamuk Aedes aegypti. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko penularan DBD jika tidak diantisipasi dengan langkah pencegahan yang konsisten.

Dengan tren yang mulai melandai, pemerintah berharap masyarakat tidak lengah. Ancaman DBD masih nyata, dan hanya dengan kolaborasi antara pemerintah dan warga, penurunan kasus ini bisa dipertahankan bahkan ditekan lebih jauh. (red)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru