LEBAK — Fajar bahkan belum sepenuhnya menyingsing ketika langkah-langkah sunyi itu mulai terdengar dari pedalaman. Tanpa alas kaki, tanpa keluhan, ratusan warga Baduy berjalan menembus gelap sejak pukul 03.00 WIB. Inilah Seba Baduy 2026—bukan sekadar tradisi, melainkan panggilan leluhur yang tak pernah putus, bahkan di tengah dunia yang semakin bising oleh modernitas.
Mengusung tema “Warisan Karuhun: Inspirasi Kiwari Ngahiji Dina Tradisi”, ribuan pasang mata menyaksikan rangkaian acara yang digelar di Kabupaten Lebak. Dari sarasehan budaya, kemah adat, hingga pertunjukan tradisional, semuanya seakan hanya menjadi pembuka dari satu inti: perjalanan panjang yang sarat makna, pengorbanan, dan keteguhan.
Bupati Lebak, Hasbi Asyidiki Jayabaya, tak menyembunyikan rasa takjubnya. Sebanyak 1.562 warga Baduy memulai perjalanan mereka sejak dini hari, berjalan kaki demi satu tujuan: bertemu “Bapak Gede”, simbol pemerintah yang mereka hormati dalam tradisi.
“Ini bukan sekadar perjalanan fisik. Ini tentang menjaga nilai hidup, tentang kesederhanaan yang semakin langka,” ujarnya.
Di tengah gemuruh zaman, masyarakat Baduy justru berdiri tegak dengan prinsip yang nyaris terlupakan: hidup secukupnya, menjaga alam sepenuh hati.
“Baduy mengajarkan kita bahwa alam adalah titipan Gusti Allah. Cara kita memperlakukannya, itulah cermin diri kita,” lanjut Hasbi, suaranya tegas namun sarat makna.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lebak, Yosep Muhamad Holis, mengungkapkan bahwa tahun ini Seba digelar dalam format lebih kecil, atau dikenal sebagai Seba Leutik.
“Tercatat 1.562 peserta, termasuk 35 dari Baduy Dalam. Meski lebih sedikit, nilai dan kekuatan tradisinya tidak berkurang sedikit pun,” katanya.
Sejarah mencatat, Seba Baduy telah berlangsung ratusan tahun. Ia bukan sekadar ritual tahunan, melainkan perjanjian sunyi antara manusia, alam, dan kekuasaan. Dari generasi ke generasi, masyarakat Baduy membawa hasil bumi, berjalan kaki, dan menyampaikan pesan: bahwa keseimbangan hidup harus dijaga, apa pun yang terjadi.
Di Jalan Rangkasbitung–Leuwidamar, pemandangan itu terasa seperti potongan waktu yang berhenti. Warga Baduy Dalam dengan pakaian putih bersih berjalan tanpa alas kaki, menempuh perjalanan delapan jam dari kampung adat seperti Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Mereka tiba di Terminal Aweh sekitar pukul 11.00 WIB, tetap tenang, tetap teguh.
“Iya, berangkat jam 03.00 WIB, sampai jam 11.00 WIB,” ujar Ayah Dani singkat. Kalimat sederhana, namun menyimpan kisah panjang tentang ketahanan, tentang keyakinan yang tak tergoyahkan. Ia menegaskan, perjalanan ini bukan pilihan—melainkan kewajiban adat. “Baduy Dalam harus jalan kaki, tidak boleh naik kendaraan.”
Sore harinya, mereka berkumpul di Jembatan Keong, menyatu dengan Baduy Luar sebelum melanjutkan langkah menuju Pendopo Bupati Lebak. Di titik itu, ribuan langkah berubah menjadi satu suara sunyi yang menggema: tradisi ini masih hidup—dan menolak untuk hilang.
Di saat banyak yang berlari mengejar kemajuan, masyarakat Baduy justru mengingatkan dengan cara paling sederhana namun paling kuat: berhenti sejenak, lihat alam, dan ingat dari mana manusia berasal. Seba Baduy bukan hanya peristiwa budaya—ia adalah peringatan yang terasa menampar, sekaligus menghangatkan. (red)





