Di kota yang semakin sibuk menghitung pertumbuhan ekonomi, membangun jalan, meresmikan gedung, dan berlomba memproduksi serangkaian seremonial, ada satu hal yang sering luput dihitung: kemampuan sebuah kota untuk bercakap dengan jiwanya sendiri.
Jumat malam lalu, di Semanggi Center, Cikokol, Kota Tangerang, percakapan itu kembali terjadi. Namanya sederhana: Malam Puisi Tangerang.
Tema yang diusung pun terdengar ringan: Kota, Kita, Kata. Namun seperti banyak hal dalam sastra, yang sederhana sering kali menyimpan lapisan yang jauh lebih dalam. Sebab kota tidak pernah hanya terdiri dari beton dan aspal. Kota adalah kumpulan ingatan. Kota adalah pertemuan manusia-manusia yang saling singgah. Dan kata adalah cara paling tua yang digunakan manusia untuk menyimpan semuanya agar tidak hilang ditelan waktu.
Malam itu, penyair datang dari berbagai arah dan generasi. Ada anak-anak yang masih begitu muda sehingga sebagian besar hidupnya mungkin masih dipenuhi tugas sekolah dan permainan. Ada mahasiswa yang membawa kegelisahan zaman. Ada pekerja seni yang masih setia merawat api kebudayaan di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar angka. Ada pula para penyair senior yang membawa pengalaman puluhan tahun berdialog dengan kata-kata. Mereka berkumpul bukan untuk mencari juara.
Tidak ada hadiah besar. Tidak ada panggung megah. Tidak ada kontrak industri kreatif yang menunggu di belakang layar. Yang ada hanya satu kebutuhan manusia yang paling purba: kebutuhan untuk didengar.
Di tengah masyarakat yang semakin akrab dengan video berdurasi lima belas detik, puisi sesungguhnya adalah tindakan yang hampir subversif. Ia meminta orang berhenti sejenak.
Mendengar.
Merenung.
Dan dalam banyak kasus, berani berhadapan dengan dirinya sendiri.
Mungkin karena itu Malam Puisi Tangerang selalu terasa seperti ritual kecil yang menolak tunduk pada logika kecepatan.
Acara ini sendiri bukan peristiwa baru. Ia telah hidup sejak tahun 2013. Pernah tersandung pandemi, pernah vakum, pernah nyaris kehilangan ruang. Namun seperti rumput liar yang tumbuh di sela beton, ia selalu menemukan jalan untuk kembali hidup.
Kadang di Kota Tangerang. Kadang di Tangerang Selatan. Kadang di Kabupaten Tangerang.
Berpindah-pindah sebagaimana tradisi lisan Nusantara dahulu berpindah dari satu kampung ke kampung lain membawa cerita.
Tema malam itu adalah Kota, Kita, Kata. Namun seperti manusia yang tidak pernah bisa dikurung oleh satu identitas tunggal, puisi-puisi yang dibacakan pun melampaui tema tersebut.
Ada yang berbicara tentang Sungai Cisadane yang terus mengalir membawa sejarah. Ada yang mengenang Gedung Kesenian Kota Tangerang yang kini tinggal cerita dan area parkir bertingkat. Ada yang membicarakan cinta yang gagal sampai tujuan. Ada pula yang membicarakan negeri yang terlalu sibuk dengan pidato, slogan, dan omon-omon.
Malam itu kata-kata seperti berjalan ke mana saja.Kadang menjadi surat cinta.Kadang menjadi doa.Kadang menjadi gugatan.Kadang menjadi kesaksian. Dan di situlah sastra menemukan fungsinya yang paling penting: bukan memberi jawaban, melainkan menjaga agar pertanyaan tetap hidup.
Menariknya, peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Tangerang. Media sosial yang sering dituduh merusak konsentrasi manusia ternyata masih bisa menjadi jalan bertemunya para pencinta sastra.
Seorang perantau dari Tasikmalaya datang hanya karena melihat informasi kegiatan ini di media sosial. Ia datang bukan membawa proposal. Bukan membawa kepentingan. Ia datang membawa puisi. Dalam dunia yang semakin transaksional, tindakan seperti itu terasa nyaris romantis.
Sebagian karya yang dibacakan malam itu kemudian dihimpun dalam sebuah antologi cetak terbatas, Antologi Malam Puisi Volume 1. Sebuah upaya sederhana untuk memastikan kata-kata tidak hanya hidup semalam lalu hilang.
Karena puisi sejatinya adalah cara manusia melawan lupa.Ia mengabadikan apa yang tidak mampu ditampung oleh laporan resmi. Ia merekam apa yang sering lolos dari statistik. Ia menyimpan getaran yang tidak bisa diterjemahkan menjadi angka.
Menjelang akhir acara, suasana perlahan berubah. Kata-kata yang sebelumnya dibacakan satu per satu kemudian melebur dengan musik.Gitar dipetik.Saksofon berbunyi.Tong kosong ditabuh.
Dan Edi Bonetsky menutup malam dengan lagu yang lahir dari rahim puisi itu sendiri.Di titik tersebut batas antara sastra, musik, dan kehidupan menjadi kabur.
Sebab sejatinya semua kesenian hanya sedang mencoba melakukan satu hal yang sama: menjaga manusia tetap menjadi manusia. Di kota yang semakin ramai, ruang-ruang seperti ini menjadi penting.
Bukan karena puisi akan mengubah dunia dalam semalam. Tetapi karena tanpa puisi, tanpa sastra, tanpa ruang untuk berbicara dan mendengar, kota hanya akan menjadi kumpulan bangunan yang kehilangan jiwa.
Dan selama masih ada orang yang mau membaca puisi, mendengar puisi, menulis puisi, dan merayakan puisi bersama-sama, maka masih ada harapan bahwa denyut kebudayaan Tangerang belum berhenti.
Ia masih hidup.Masih berdetak. Masih mencari cara untuk terus berbicara kepada zamannya.

-Mukapi ‘Miing’ Solihin-
Founder Semanggi Center





