BerandaBantenKota TangerangMerah Putih Berkibar, Bumi Harus Terawat: DLH Kota Tangerang Ajak Warga Bergerak

Merah Putih Berkibar, Bumi Harus Terawat: DLH Kota Tangerang Ajak Warga Bergerak

KOTA TANGERANG – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak harus berhenti pada pengibaran bendera, upacara, maupun berbagai perlombaan. Di tengah tantangan lingkungan perkotaan, semangat kemerdekaan juga dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang berdampak besar: menjaga bumi tetap bersih, sehat dan lestari.

Semangat tersebut terangkum dalam gerakan “Jaga Bumi, Rawat Merah Putih”, sebuah ajakan kepada masyarakat Kota Tangerang untuk menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Sebab, Merah Putih yang berkibar akan semakin bermakna ketika dibarengi lingkungan yang terawat dan ruang hidup yang nyaman bagi masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Yudi Pradana menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Menurutnya, keberhasilan menjaga kebersihan kota membutuhkan perubahan kebiasaan sekaligus keterlibatan masyarakat dari tingkat rumah tangga.

“Menjaga lingkungan harus dimulai dari hal yang paling dekat dengan kehidupan kita. Pemilahan sampah dari rumah, tidak membuang sampah sembarangan, merawat pohon, menghemat air dan mencegah pencemaran merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap kota,” ujar Yudi.

Salah satu langkah yang terus didorong DLH adalah memilah sampah sejak dari sumbernya. Masyarakat dapat memisahkan sampah organik, anorganik dan residu sebelum diserahkan kepada pengelola. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi juga dapat dimanfaatkan melalui Bank Sampah, sementara penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) membantu mengurangi timbulan sampah sejak awal.

Yudi mengatakan, pengelolaan sampah berbasis masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan baru. Karena itu, keberadaan Bank Sampah dan TPS3R perlu dimanfaatkan sebagai ruang kolaborasi agar sampah tidak sekadar berakhir sebagai limbah, tetapi dapat dikelola menjadi sesuatu yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kebiasaan membuang sampah sembarangan. Sampah yang masuk ke jalan, sungai, saluran air, taman atau ruang publik bukan hanya mengganggu estetika kota, tetapi juga dapat menimbulkan bau, menyumbat drainase hingga meningkatkan risiko pencemaran. Masyarakat pun didorong aktif melaporkan persoalan lingkungan agar dapat segera ditindaklanjuti, termasuk keberadaan tempat pembuangan sampah ilegal.

Di sisi lain, penghijauan menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan perkotaan. Pohon bukan sekadar elemen pemanis kota, melainkan memiliki fungsi ekologis sebagai penyedia keteduhan dan pendukung kualitas udara. Karena itu, gerakan menanam perlu diikuti dengan kebiasaan merawat tanaman serta menjaga pohon yang sudah tumbuh di lingkungan permukiman maupun ruang publik.

Wali Kota Tangerang Sachrudin turut menekankan pentingnya kolaborasi masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan kota. Menurutnya, pembangunan kota akan lebih kuat apabila pemerintah dan warga memiliki kepedulian yang sama terhadap ruang hidup bersama.

“Lingkungan yang bersih dan nyaman adalah kebutuhan kita bersama. Pemerintah terus berupaya memberikan pelayanan, tetapi partisipasi masyarakat sangat menentukan keberhasilannya,” kata Sachrudin.

Dukungan masyarakat juga dapat diwujudkan melalui kepatuhan terhadap retribusi pelayanan persampahan. Pembayaran sesuai ketentuan menjadi salah satu bentuk kontribusi warga dalam mendukung keberlangsungan layanan kebersihan. Untuk meningkatkan pelayanan, DLH Kota Tangerang juga mengembangkan Siritase (Sistem Informasi Retribusi Secara Elektronik) sebagai bagian dari inovasi digital dalam pengelolaan retribusi persampahan.

Semangat “Jaga Bumi, Rawat Merah Putih” turut mengajak masyarakat menggunakan air secara bijak. Kebiasaan sederhana seperti menutup keran ketika tidak digunakan, menggunakan air sesuai kebutuhan serta menjaga sungai dan saluran air dari sampah merupakan langkah kecil untuk melindungi sumber kehidupan.

Gerakan tersebut juga menempatkan generasi muda sebagai pelopor kepedulian lingkungan. Membawa tumbler, mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah, menanam tanaman, menggunakan air dan listrik secara bijak hingga mengedukasi lingkungan melalui media sosial dapat menjadi bagian dari gaya hidup anak muda masa kini.

Pada akhirnya, menjaga bumi adalah bentuk lain dari merawat Indonesia. Kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu tidak hanya perlu diperingati, tetapi juga diisi dengan tanggung jawab menjaga ruang hidup untuk generasi berikutnya. Dari rumah, sekolah, komunitas hingga ruang publik, setiap orang memiliki kesempatan menjadi bagian dari perubahan.

Merah Putih boleh berkibar di setiap sudut Kota Tangerang. Namun, semangat kemerdekaan akan terasa semakin nyata ketika kota tetap bersih, pohon tetap hijau, air terjaga dan masyarakat bergerak bersama menjaga bumi. (red)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru