BerandaEkbisSempat Hijau, IHSG Malah Jatuh di Penghujung September

Sempat Hijau, IHSG Malah Jatuh di Penghujung September

JAKARTA – Bursa saham Indonesia menutup perdagangan September 2026 dengan tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (30/9/2026) merosot 50,56 poin atau 0,83 persen ke level 6.071. Pelemahan ini cukup mengejutkan karena pada sesi I IHSG sempat menguat dan bergerak lebih dari 60 poin di zona hijau.

Tekanan justru semakin terasa memasuki perdagangan sesi II. Sejumlah saham berkapitalisasi besar mengalami pelemahan sehingga penguatan indeks pada paruh pertama perdagangan tidak mampu dipertahankan hingga bel penutupan. Saham-saham big bank seperti BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI turut menjadi penekan IHSG.

Dari sisi sektoral, tekanan terjadi cukup merata. Sektor teknologi menjadi yang terdalam dengan penurunan 2,76 persen, disusul konsumer primer yang melemah 2,36 persen. Energi turun 1,35 persen, keuangan terkoreksi 0,60 persen, sedangkan transportasi melemah 0,70 persen. Di sisi lain, sektor industri masih mampu tumbuh 1,17 persen dan konsumer non-primer naik 0,15 persen.

Di tengah pasar yang mayoritas merah, sejumlah saham justru mencatat lonjakan. AIMS menjadi salah satu top gainer dengan kenaikan 25 persen ke Rp605. SAFE juga melesat 25 persen ke Rp570, sedangkan BSWD naik 24,68 persen ke Rp2.880. BLTZ menguat 24,53 persen menjadi Rp2.310 dan CCSI naik 24,50 persen ke Rp376.

Pergerakan saham bank besar menjadi perhatian karena sebelumnya kelompok perbankan sempat membantu menopang indeks. Pada sesi I, BBCA mencatat nilai transaksi terbesar sekitar Rp547,08 miliar, disusul BMRI Rp259,37 miliar dan BBRI Rp239,85 miliar. Saat itu BBCA turun 0,81 persen, sementara BMRI naik 0,50 persen dan BBRI menguat 0,32 persen.

Dari sisi investor asing, tekanan jual masih menjadi perhatian. Pada perdagangan Selasa (29/9), asing mencatat net sell Rp777,17 miliar. Penjualan terbesar antara lain terjadi pada BMRI, TLKM dan BBCA. Namun, BBRI justru menjadi salah satu saham yang dibeli bersih asing dengan nilai sekitar Rp58,2 miliar pada perdagangan tersebut.

Analis FAC Sekuritas sebelumnya memperingatkan bahwa pasar masih menghadapi sejumlah sentimen yang dapat meningkatkan volatilitas. Faktor eksternal yang diperhatikan antara lain kenaikan yield US Treasury, penguatan dolar AS, harga minyak dan perkembangan geopolitik Timur Tengah. Dari dalam negeri, pelemahan rupiah serta penerapan aturan baru batas minimum harga saham BEI juga menjadi perhatian pelaku pasar.

Sementara itu, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana sebelumnya melihat masih ada peluang penguatan jangka pendek setelah IHSG terkoreksi pada perdagangan 29 September. MNC Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguji area 6.152–6.196, namun tetap mengingatkan adanya risiko koreksi lanjutan ke area 5.850–5.946.

Dengan penutupan di sekitar level 6.071, perhatian investor kini beralih ke perdagangan Oktober. Pergerakan saham bank besar, arus dana asing, rupiah, harga minyak dan sentimen pasar global akan menjadi sejumlah faktor yang patut dicermati. Bagi investor ritel, volatilitas seperti ini membuat disiplin terhadap rencana investasi menjadi semakin penting, terutama ketika pergerakan indeks berubah cepat dari hijau menjadi merah dalam satu sesi perdagangan. (red)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru