KOTA TANGERANG – Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Tangerang dalam beberapa hari terakhir mulai menimbulkan kekhawatiran serius. Hujan deras disertai angin kencang tak hanya memicu banjir di sejumlah titik, tetapi juga menyebabkan kerusakan fasilitas warga, menandakan meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi di kawasan ini.
Di sejumlah wilayah seperti Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang, intensitas hujan tinggi membuat sistem drainase kewalahan. Jalanan tergenang, aktivitas warga terganggu, bahkan beberapa rumah dilaporkan rusak akibat terpaan angin kencang yang datang tiba-tiba.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di wilayah Banten. Kondisi atmosfer yang labil serta tingginya kelembapan udara menjadi faktor utama terbentuknya awan konvektif pemicu cuaca ekstrem.
“Pola cuaca saat ini masih dinamis. Masyarakat di wilayah Tangerang dan sekitarnya diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi hujan intensitas sedang hingga lebat yang dapat terjadi secara tiba-tiba,” ujar Kepala BMKG Wilayah II, Dwikorita Karnawati, dalam keterangannya.
Sementara itu, Kepala BPBD Kota Tangerang, Mahdiar, mengatakan pihaknya telah meningkatkan kesiapsiagaan dengan menyiagakan personel di titik-titik rawan. “Kami fokus pada langkah cepat seperti penyedotan genangan, pemangkasan pohon rawan tumbang, serta koordinasi lintas instansi untuk mengantisipasi dampak lebih luas,” jelasnya.
Namun, pengamat lingkungan dari Universitas Indonesia, Dr. Budi Santoso, menilai bahwa persoalan ini tidak bisa hanya dilihat dari faktor cuaca semata. Menurutnya, perubahan tata ruang dan minimnya daerah resapan air turut memperparah dampak yang terjadi. “Jika tidak ada pembenahan sistem drainase terpadu dan pengendalian pembangunan, maka risiko bencana akan terus meningkat,” tegasnya.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa Tangerang perlahan mulai masuk dalam kategori wilayah rawan bencana hidrometeorologi. Tanpa mitigasi yang terencana dan berkelanjutan, siklus banjir dan kerusakan akibat cuaca ekstrem diprediksi akan terus berulang.
Di tengah situasi ini, masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan deras dalam durasi lama. Pemerintah daerah pun didesak untuk tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tetapi juga memperkuat strategi mitigasi jangka panjang demi melindungi keselamatan warga. (red)





