KOTA TANGERANG – Di sudut-sudut rumah sederhana, ada orang tua yang mulai cemas setiap kali tahun ajaran baru mendekat. Bukan karena tak ingin menyekolahkan anak, tetapi karena khawatir tak mendapatkan tempat. Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) menjadi harapan sekaligus penentu masa depan bagi banyak keluarga di Kota Tangerang.
Bagi sebagian anak, sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi jalan untuk keluar dari keterbatasan. Setiap formulir yang diisi, setiap berkas yang disiapkan, menyimpan doa panjang agar mereka bisa duduk di bangku sekolah yang layak.
Menjawab harapan tersebut, Pemerintah Kota Tangerang memastikan kesiapan pelaksanaan SPMB Tahun Ajaran 2026/2027 dengan sistem yang terus disempurnakan agar lebih adil dan transparan.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Wahyudi Iskandar, menegaskan bahwa secara prinsip jalur penerimaan tetap sama, namun terdapat penyesuaian pada jalur prestasi.
“Penambahan Tes Kemampuan Akademik menjadi bagian dari upaya kami untuk melihat kemampuan siswa secara lebih menyeluruh, tidak hanya dari nilai rapor,” ujarnya.
Kebijakan ini diharapkan memberi peluang lebih adil bagi siswa yang memiliki kemampuan akademik baik, meski mungkin tidak selalu tercermin sepenuhnya dalam nilai sekolah.
Di sisi lain, pemerintah juga melakukan evaluasi terhadap daya tampung. Ribuan kursi kosong di tingkat SD pada tahun sebelumnya menjadi catatan penting agar distribusi siswa ke depan lebih merata dan tidak menimbulkan kecemasan berlebihan bagi orang tua.
Wali Kota Tangerang, Sachrudin, memahami betul kegelisahan yang dirasakan masyarakat. Ia menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan.
“Kami ingin memastikan tidak ada anak yang tertinggal. Pendidikan adalah hak semua anak, dan pemerintah harus hadir memberikan solusi,” ujarnya.
Pendaftaran SPMB akan dilakukan secara daring, dengan tahapan Pra SPMB dimulai pada 13 April dan pendaftaran utama dibuka pada Juni 2026. Pemerintah juga menyiapkan opsi gelombang kedua jika kuota belum terpenuhi.
Di balik sistem yang terus diperbaiki, ada harapan sederhana yang terus dijaga: seorang anak bisa bersekolah tanpa rasa khawatir, dan orang tua bisa tersenyum karena masa depan anaknya menemukan jalan. (red)





