Selasa, Maret 10, 2026
spot_img
BerandaBantenTangerang SelatanSampah Nggak Habis-Habis? Tangsel Tantang Warganya Bikin 1.000 Lubang Biopori!

Sampah Nggak Habis-Habis? Tangsel Tantang Warganya Bikin 1.000 Lubang Biopori!

TANGSEL – Persoalan sampah yang kian menekan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) membuat Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) mengambil langkah tegas dari hulunya.

Pemkot Tangsel resmi mencanangkan Gerakan 1.000 Lubang Biopori per kelurahan sebagai solusi nyata mengurangi sampah rumah tangga sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan.

Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, menegaskan bahwa perubahan besar harus dimulai dari langkah kecil di rumah masing-masing. Menurutnya, pengelolaan sampah tidak bisa terus dibebankan pada sistem pengangkutan dan TPA semata.

“Target saya satu kelurahan minimal seribu lubang biopori. Kalau satu rumah bikin satu saja, dampaknya sudah luar biasa. Ini gerakan sederhana tapi efeknya sistemik,” ujar Benyamin di Serpong, Jumat (06/03/2026).

Berdasarkan data nasional, lebih dari 50 persen komposisi sampah perkotaan didominasi sampah organik seperti sisa makanan, sayur, dan kulit buah.

Di Tangsel sendiri, timbulan sampah harian diperkirakan mencapai ratusan ton per hari. Jika separuhnya dapat diurai langsung di tingkat rumah tangga melalui biopori, maka beban pengangkutan dan penumpukan di TPA dapat ditekan signifikan.

Lubang biopori berdiameter 10–20 sentimeter dengan kedalaman hingga satu meter dibuat menggunakan pipa paralon berlubang agar proses dekomposisi berlangsung optimal. Sampah organik dimasukkan ke dalamnya dan akan terurai alami menjadi kompos di dalam tanah.

“Sampah organik dimasukkan ke situ, nanti habis oleh proses alami. Kita kembalikan ke hukum alam. Tapi plastik, kaleng, dan beling jangan dimasukkan. Itu dikelola lewat bank sampah,” tegasnya.

Tak hanya menekan volume sampah, biopori juga berfungsi meningkatkan daya resap air dan mengurangi potensi genangan saat musim hujan.

Dengan ribuan titik resapan baru di tiap kelurahan, risiko banjir lokal di kawasan permukiman padat pun dapat diminimalkan.

Pemkot Tangsel akan mendistribusikan alat pembuat lubang dan material pendukung melalui kelurahan agar gerakan ini berjalan masif serta terukur. Pemerintah berharap keterlibatan RT, RW, kader lingkungan, hingga komunitas menjadi motor penggerak di lapangan.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan sistem pengangkutan. Harus ada perubahan pola pikir. Sampah organik itu bukan dibuang, tapi diselesaikan di rumah masing-masing,” tandas Benyamin.

Melalui gerakan ini, Tangsel ingin membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Dari satu lubang kecil di halaman rumah, perubahan besar untuk kota bisa dimulai. (red)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru