Jumat, Februari 13, 2026
spot_img
BerandaBantenTangerangSempat Dikunjungi Wapres dan Kapolri, Lahan Jagung di Desa Bantar Panjang Tigaraksa...

Sempat Dikunjungi Wapres dan Kapolri, Lahan Jagung di Desa Bantar Panjang Tigaraksa Terancam Gagal Panen

KAB. TANGERANG – Program penanaman jagung yang diklaim sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional di Desa Bantar Panjang, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, kini menuai sorotan tajam. Lahan yang sebelumnya dipamerkan dalam agenda kenegaraan justru terancam gagal panen. Tanaman jagung terlihat kering, membusuk, dan tidak berkembang, jauh dari gambaran sukses yang sempat disampaikan ke publik.

Padahal, lokasi tersebut sempat menjadi panggung besar negara. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hadir langsung bersama jajaran menteri hingga Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam agenda penanaman jagung serentak kuartal IV yang diinisiasi Polri.

Namun setelah kamera dimatikan dan pejabat pulang, kondisi di lapangan berbicara lain.

Klaim Ketahanan Pangan Berbanding Terbalik dengan Fakta Lapangan

Pantauan di lokasi menunjukkan tanaman jagung tidak terawat, menguning, dan sebagian besar mati. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar atas efektivitas program yang digadang-gadang sebagai proyek nasional strategis.

Aktivis Tangerang, Gandi Sadewa, menyebut kegagalan ini nyata dan tidak bisa ditutupi oleh narasi seremoni.

“Ini gagal total. Kalau jagungnya mati seperti ini, lalu di mana ketahanan pangannya? Yang hidup justru acaranya, bukan tanamannya,” katanya, Sabtu (27/12/2025).

Seremoni Negara, Pengawalan Nihil

Menurut Gandi, sejak awal program lebih menonjolkan agenda simbolik dan pencitraan pejabat ketimbang kesiapan teknis pertanian. Penanaman dilakukan tanpa pendampingan serius hingga masa panen.

“Negara hadir lengkap, pejabat datang, kamera menyala. Tapi setelah itu lahan dibiarkan. Kalau hasilnya mati seperti ini, publik berhak menyebut program ini gagal,” ucapnya.

Anggaran Tak Transparan, Hasil Dipertanyakan

Gandi juga menyoroti potensi pemborosan anggaran negara. Meski nilai anggaran tidak pernah dipublikasikan secara rinci, ia menilai mustahil program skala nasional yang melibatkan banyak institusi tidak menyerap dana besar.

“Kalau uang rakyat dipakai tapi jagungnya mati, itu bukan sekadar gagal teknis. Itu pemborosan anggaran. Dan pemborosan ini bentuk pengkhianatan terhadap kepentingan publik,” tegasnya.

Petani Lokal Jadi Korban Program Nasional

Lebih jauh, kegagalan ini berdampak langsung pada petani dan warga Tangerang yang dilibatkan dalam program tanpa kepastian hasil.

“Petani dijanjikan ketahanan pangan, yang datang justru lahan gagal panen. Tangerang jangan dijadikan panggung proyek nasional yang hasilnya nihil,” katanya.

Desakan Audit dan Penghentian Proyek Seremonial

Atas kondisi tersebut, Gandi mendesak pemerintah dan aparat terkait untuk:

  • Melakukan audit menyeluruh terhadap program tanam jagung di Kabupaten Tangerang
  • Membuka secara transparan anggaran dan mekanisme pelaksanaan
  • Menghentikan pola program tanam simbolik tanpa kesiapan lahan dan pendampingan berkelanjutan

“Kalau negara serius soal pangan, ukurannya panen, bukan publikasi. Selama jagung di Tangerang gagal, klaim keberhasilan itu bohong,” tutup Gandi.

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru