TANGSEL – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) mulai serius mempersiapkan generasi muda menghadapi Pemilu 2029 melalui program pendidikan politik Sekolah Jawara. Namun di balik upaya tersebut, tantangan klasik demokrasi—politik uang—masih menjadi bayang-bayang yang sulit diabaikan.
Program yang digelar bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) ini menyasar pelajar dan pemilih pemula, seiring proyeksi dominasi Generasi Z dan milenial dalam komposisi pemilih mendatang.
Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, menegaskan bahwa generasi muda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah demokrasi.
“Yang menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana membekali mereka dengan pemahaman demokrasi yang benar,” ujarnya di Serpong pada Selasa (21/4/2026).
Sekolah Jawara dirancang untuk menanamkan literasi politik, termasuk kemampuan menyaring informasi dan melawan hoaks yang kerap beredar di ruang digital. Namun, persoalan demokrasi tidak berhenti pada aspek informasi.
Di lapangan, praktik politik uang masih menjadi isu yang berulang dalam setiap kontestasi, termasuk di tingkat lokal. Kondisi ini berpotensi menggerus idealisme pemilih pemula yang baru mengenal dunia politik.
Data nasional menunjukkan, pemilih muda diperkirakan akan mendominasi lebih dari 50 persen pada Pemilu 2029. Jumlah besar ini menjadi peluang sekaligus titik rawan jika tidak dibarengi penguatan integritas dan kesadaran politik.
Di satu sisi, edukasi terus didorong agar pemilih lebih rasional. Namun di sisi lain, realitas ekonomi dan pragmatisme politik sering kali menjadi faktor yang memengaruhi pilihan di bilik suara.
“Pemilih muda harus kritis dan tidak mudah terpengaruh,” menjadi pesan yang terus digaungkan, meski implementasinya di lapangan tidak selalu mudah.
Program seperti Sekolah Jawara dinilai penting sebagai langkah awal. Namun tanpa pengawasan yang kuat dan penegakan hukum yang tegas terhadap praktik politik uang, upaya pendidikan politik berpotensi tidak berjalan optimal.
Pemilu 2029 pun akan menjadi ujian besar: apakah generasi muda benar-benar menjadi pemilih cerdas yang berintegritas, atau justru terjebak dalam pola lama yang sulit diubah. (red)





