Selasa, April 28, 2026
spot_img
BerandaBantenTangerang SelatanHaji Bukan Sekadar Biaya, Kesiapan Fisik Jadi Penentu Utama

Haji Bukan Sekadar Biaya, Kesiapan Fisik Jadi Penentu Utama

TANGSEL – Biaya sudah lunas, koper sudah siap, doa sudah dipanjatkan. Namun bagi puluhan calon jemaah haji asal Tangerang Selatan, perjalanan suci itu harus tertunda. Bukan karena niat yang surut, melainkan karena satu hal yang kerap luput dari perhatian: kesiapan kesehatan.

Data dari Kementerian Haji dan Umrah Kota Tangerang Selatan mencatat, sebanyak 77 calon jemaah haji tahun 2026 batal berangkat. Dari jumlah tersebut, 10 orang bahkan sudah melunasi biaya perjalanan, tetapi terpaksa menunda karena tidak memenuhi standar kesehatan (istitaah).

Kepala Kemenag Haji dan Umrah Tangsel, Rizki Waludin, mengungkapkan bahwa kondisi medis menjadi faktor dominan dalam pembatalan.

“Kesehatan menjadi syarat utama. Jika tidak memenuhi standar, jemaah tidak bisa diberangkatkan demi keselamatan mereka sendiri,” ujarnya, Senin (27/04/2026).

Kasus paling nyata terlihat pada tiga calon jemaah dari kloter 04 yang gagal berangkat setelah tiba di embarkasi. Satu di antaranya mengalami penyakit kronis stadium lanjut, lainnya mengalami pendarahan otak, dan satu lagi mengalami cedera serius akibat kecelakaan.

Situasi ini memunculkan pertanyaan yang lebih dalam: apakah kesiapan finansial selama ini lebih diutamakan dibanding kesiapan fisik?

Dalam praktiknya, banyak calon jemaah fokus pada pelunasan biaya yang nilainya tidak kecil—puluhan juta rupiah—namun belum sepenuhnya memperhatikan kondisi kesehatan sejak awal masa tunggu. Padahal, masa tunggu haji di Indonesia bisa mencapai belasan hingga puluhan tahun, cukup panjang untuk mempersiapkan fisik secara bertahap.

Rizki menegaskan, standar kesehatan bukanlah formalitas administratif, melainkan faktor penentu keselamatan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci yang memiliki kondisi ekstrem, mulai dari suhu tinggi hingga aktivitas fisik yang padat.

“Kami selalu mengingatkan agar calon jemaah menjaga kesehatan sejak jauh hari. Karena saat mendekati keberangkatan, waktu untuk perbaikan kondisi sudah sangat terbatas,” katanya.

Selain faktor kesehatan, 61 calon jemaah lainnya menunda keberangkatan karena kendala ekonomi dan administrasi. Satu jemaah dilaporkan meninggal dunia sebelum berangkat, sementara dua lainnya mengalami sakit permanen.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ibadah haji bukan hanya soal kemampuan finansial. Ia adalah kombinasi antara kesiapan ekonomi, fisik, dan mental yang harus berjalan seimbang.

Pengamat kesehatan haji menilai, edukasi terkait istitaah perlu diperkuat sejak awal pendaftaran. Bukan hanya menjelang keberangkatan, tetapi menjadi bagian dari proses panjang yang menyertai masa tunggu jemaah.

“Banyak yang sadar pentingnya kesehatan justru di akhir. Padahal seharusnya dipersiapkan sejak awal,” ujar seorang praktisi kesehatan haji.

Di tengah tingginya biaya dan panjangnya antrean, kisah para jemaah yang gagal berangkat ini menjadi pengingat: bahwa panggilan haji bukan hanya tentang kesiapan biaya, tetapi juga kesiapan tubuh untuk menjalaninya.

Karena di Tanah Suci, yang diuji bukan hanya niat—tetapi juga kekuatan fisik untuk menunaikannya hingga selesai. (red)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru