BerandaBantenKota TangerangSetahun Sekali, Kampung Pekijing Bangun Panjang Mulud

Setahun Sekali, Kampung Pekijing Bangun Panjang Mulud

SERANG — Malam-malam di Kampung Pekijing, Kelurahan Kalanganyar, Kota Serang, Banten, berubah menjadi ruang kerja bersama. Bukan sekadar membuat hiasan untuk menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW, warga bergotong royong merawat sebuah tradisi yang telah mereka pertahankan selama tujuh tahun: Panjang Mulud.

Selama kurang lebih satu bulan, warga bekerja hampir setiap malam menyelesaikan kerajinan berukuran besar yang umumnya mengambil bentuk satwa seperti macan dan kuda. Menariknya, semangat kebersamaan itu bukan hanya dibangun melalui kesadaran, tetapi juga kesepakatan swadaya. Warga yang tidak mengikuti kegiatan gotong royong dikenakan denda Rp20 ribu. “Bikinnya gotong royong setiap malam. Kalau ada warga yang tidak ikut bergotong royong, akan dikenakan denda Rp20.000,” kata warga Kampung Pekijing, Satibi, di Serang, Sabtu (8/8/2026).

Tahun ini, bahan baku yang digunakan mencapai sekitar lima kubik, dengan ukuran dan tingkat kemegahan Panjang Mulud menyesuaikan kemampuan dana warga. Setelah rampung, hasil kerajinan terlebih dahulu digunakan untuk kebutuhan perayaan Maulid di kampung. Selebihnya baru dipasarkan kepada masyarakat dari luar wilayah yang tertarik membawa pulang karya tersebut.

Di sinilah tradisi berubah menjadi kekuatan ekonomi warga. Panjang Mulud berukuran kecil dijual sekitar Rp200 ribu, ukuran sedang Rp350 ribu, sedangkan yang terbesar mencapai Rp500 ribu. Satibi mengatakan pembeli dari luar daerah biasanya datang langsung setelah melihat kerajinan tersebut, meski sebagian besar tidak melakukan pemesanan jauh-jauh hari. “Biasanya kerajinan ini habis dibeli secara berurutan oleh warga dari luar daerah yang datang melihat langsung, seperti dari wilayah Ciomas,” ujarnya.

Bagi warga Pekijing, setiap Panjang Mulud bukan sekadar benda hias. Di balik bentuknya yang mencolok terdapat waktu, tenaga, bahan baku dan kerja kolektif masyarakat. Tradisi yang diwariskan dari tahun ke tahun itu sekaligus mempertemukan kepentingan budaya dengan kebutuhan sosial warga.

Yang membuatnya semakin bermakna, uang hasil penjualan tidak berhenti menjadi keuntungan perorangan. Seluruh hasilnya disumbangkan untuk kas masjid setempat dan sebagian dipertahankan sebagai modal produksi untuk perayaan Maulid pada tahun berikutnya. Dengan pola tersebut, tradisi terus berputar: warga bergotong royong membuat, masyarakat membeli, masjid menerima manfaat, lalu modal kembali digunakan untuk membuat Panjang Mulud di tahun berikutnya.

Tradisi tujuh tahun yang terus bertahan itu menjadi bukti bahwa warisan budaya tidak selalu harus diselamatkan melalui panggung besar. Di Kampung Pekijing, ia justru hidup dari tangan-tangan warga yang bekerja bersama setiap malam. Panjang Mulud akhirnya bukan hanya simbol kecintaan menyambut kelahiran Nabi, tetapi juga simbol bahwa ketika sebuah kampung bergerak bersama, tradisi bisa menjadi kekuatan sosial sekaligus membawa berkah ekonomi bagi masyarakatnya. (red)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru