KOTA TANGERANG – Empat belas tahun perjalanan Semanggi Center menjadi penanda panjangnya upaya mempertahankan ruang kebudayaan di tengah perubahan kota. Alih-alih merayakan pertambahan usia dengan seremoni semata, Semanggi Center memilih kembali membuka ruang pertemuan melalui buku, diskusi, sastra, dan puisi.
Perayaan ulang tahun ke-14 Semanggi Center diisi dengan dua agenda utama, yakni Nyore di Semanggi bersama Tangerang Book Party serta Malam Puisi Tangerang dan Laras Muda. Kedua kegiatan tersebut mempertemukan pegiat literasi, penulis, penyair, komunitas, dan generasi muda dalam satu ruang yang sama.
Founder Semanggi Center, Mukafi “Miing” Solihin, mengatakan perjalanan selama 14 tahun tidak hanya berbicara mengenai bertahannya sebuah tempat, tetapi juga tentang bagaimana ruang tersebut terus digunakan untuk mempertemukan manusia dan gagasan.
“Empat belas tahun bukan sekadar angka. Yang lebih penting adalah bagaimana ruang ini tetap bisa menjadi tempat orang bertemu, berdiskusi, membaca, berkesenian, dan bertukar gagasan,” ujar Mukafi “Miing” Solihin.
Rangkaian kegiatan dimulai pada pukul 16.00 WIB melalui agenda Nyore di Semanggi. Halaman Semanggi Center menjadi tempat berkumpulnya peserta untuk berbincang bersama Bunda Rini Intama mengenai buku, pengalaman membaca, literasi, hingga berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan kebudayaan.
Diskusi yang berlangsung hingga sekitar pukul 17.30 WIB itu dikemas secara cair. Peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi ikut terlibat dalam percakapan. Buku kemudian berkembang menjadi pintu masuk untuk membahas manusia, pengalaman, ingatan, serta kebutuhan sebuah kota terhadap ruang yang memungkinkan masyarakat berhenti sejenak untuk berpikir.

Bagi Semanggi Center, cara tersebut menjadi bagian dari makna perayaan ulang tahun. Usia sebuah ruang tidak harus dirayakan melalui pesta besar, tetapi dapat ditandai dengan menghadirkan kembali pertemuan dan gagasan yang membuat ruang itu tetap memiliki arti.
Selepas waktu Isya, suasana berubah menjadi lebih puitis. Panggung Semanggi Center diisi Malam Puisi Tangerang dan Laras Muda yang menghadirkan penyair-penyair muda dari berbagai daerah.
Para penyair datang dari kawasan Tangerang Raya, Lebak, Bogor, Depok hingga Jakarta. Mereka membawa karya dengan latar pengalaman yang beragam, mulai dari kegelisahan generasi muda, kehidupan kota, cinta dan patah hati, keresahan sosial, kenangan terhadap kampung halaman, hingga pertanyaan mengenai zaman yang sedang mereka jalani.
Rangkaian pembacaan puisi itu sekaligus memperlihatkan bagaimana generasi muda memandang lingkungan dan kehidupannya melalui bahasa sastra. Setiap puisi menjadi potongan cerita yang menggambarkan pengalaman personal sekaligus situasi sosial di sekitarnya.
Malam tersebut semakin istimewa dengan hadirnya dua maestro puisi Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri dan Ahmadun Yosi Herfanda. Kehadiran keduanya mempertemukan generasi yang telah lama menjaga tradisi puisi dengan para penyair muda yang tengah mencari ruang untuk tumbuh.
Pertemuan lintas generasi itu membuat Malam Puisi Tangerang tidak berhenti sebagai pertunjukan. Panggung berubah menjadi ruang dialog, sementara puisi menjadi medium untuk mempertemukan pengalaman dari masa yang berbeda.
“Yang ingin kami jaga adalah pertemuannya. Ketika orang datang, membaca, berdiskusi, mendengarkan puisi, kemudian pulang membawa gagasan atau pengalaman baru, di situlah sebuah ruang kebudayaan menemukan maknanya,” kata Miing.
Menurutnya, keberadaan ruang seperti Semanggi Center menjadi semakin penting ketika perkembangan kota lebih banyak ditandai dengan pembangunan fisik. Gedung, jalan, kawasan komersial, dan berbagai fasilitas memang dibutuhkan, tetapi kehidupan kota juga memerlukan ruang tempat masyarakat berinteraksi dan membangun percakapan.
Sebab, sebuah kota tidak hanya tumbuh melalui bangunan. Di dalamnya terdapat manusia yang membutuhkan tempat untuk membaca, berbincang, mendengar puisi, bertukar pikiran, bertemu kawan, hingga membicarakan berbagai hal yang tidak selalu dapat diukur melalui angka pembangunan.
Karena itu, perayaan 14 tahun Semanggi Center menjadi semacam pengingat bahwa ruang komunitas dan kebudayaan masih memiliki peran dalam kehidupan kota. Dari diskusi buku pada sore hari hingga pembacaan puisi selepas Isya, Semanggi Center kembali menegaskan fungsinya sebagai tempat pertemuan.
Empat belas tahun perjalanan tersebut pada akhirnya bukan hanya mengenai berapa banyak kegiatan yang telah diselenggarakan. Lebih jauh, perjalanan itu berbicara tentang berapa banyak orang yang telah dipertemukan, gagasan yang tumbuh, anak muda yang berani menyuarakan pikirannya, serta kata-kata yang menemukan tempat untuk hidup. (red)





