BerandaEkbisIHSG Turun 0,25 Persen, Saham Energi Jadi Penahan

IHSG Turun 0,25 Persen, Saham Energi Jadi Penahan

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan awal pekan di zona merah. Pada Senin (7/9/2026), IHSG turun 16,81 poin atau 0,25 persen ke level 6.619,67.

Pergerakan indeks berlangsung cukup fluktuatif. IHSG sempat menguat hingga menyentuh level 6.667 sebelum akhirnya berbalik arah. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak pada rentang 6.610 hingga 6.667.

Tekanan juga terlihat dari aktivitas perdagangan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi mencapai sekitar Rp13,73 triliun dengan volume perdagangan 37,05 miliar saham dan frekuensi transaksi sekitar 2,14 juta kali. Sebanyak 281 saham ditutup menguat, 332 saham melemah, sementara 179 saham lainnya bergerak stagnan.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan pergerakan pasar pada awal pekan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik.

“Mengawali pekan ini, pergerakan IHSG dipengaruhi dari sentimen eksternal dan internal,” ujar Nico dalam kajiannya, Senin.

Dari sisi sektoral, tekanan terbesar datang dari sektor keuangan yang terkoreksi sekitar 0,75 persen. Sektor barang baku juga melemah 0,71 persen, sedangkan teknologi turun 0,61 persen. Sektor properti turut berada di zona merah dengan penurunan sekitar 0,27 persen.

Di tengah tekanan tersebut, sejumlah sektor masih mampu mencatat penguatan. Sektor industri menjadi salah satu yang paling menonjol dengan kenaikan sekitar 1,25 persen. Sektor kesehatan juga menjadi perhatian setelah mencatat penguatan pada perdagangan hari ini.

Saham energi juga tetap menjadi salah satu titik perhatian pasar. Pada sesi pertama, indeks sektor energi sempat menguat 1,61 persen. Saham BUMI bahkan menjadi salah satu saham dengan nilai transaksi terbesar sekaligus mencatat penguatan signifikan.

Aktivitas investor asing turut memberikan warna tersendiri. Pada sesi pertama, investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp424,06 miliar. Namun, BUMI justru menjadi salah satu saham yang paling banyak dibeli asing dengan nilai pembelian sekitar Rp218,87 miliar.

Sebaliknya, beberapa saham besar menjadi sasaran aksi jual asing. TPIA mencatat penjualan asing sekitar Rp81,67 miliar, disusul BBCA Rp73,14 miliar, CUAN Rp66,06 miliar, BBRI Rp65,58 miliar, dan KLBF sekitar Rp60,01 miliar pada sesi pertama.

Pergerakan rupiah juga menjadi perhatian. Rupiah ditutup di sekitar Rp17.640 per dolar AS, melemah tipis 0,02 persen. Pada saat yang sama, Bank Indonesia mencatat cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2026 mencapai US$146,5 miliar.

Pasar juga masih mencermati perkembangan global, terutama arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan pergerakan harga komoditas. Phintraco Sekuritas dalam pandangan pekanannya menempatkan area pivot IHSG di sekitar 6.650, dengan resistance 6.750 dan support 6.500.

Dengan penutupan di 6.619,67, IHSG masih bertahan di atas level 6.600 meski tekanan jual kembali muncul pada awal pekan. Kondisi tersebut menunjukkan pasar masih bergerak selektif, dengan investor mengalihkan perhatian ke sektor dan saham tertentu di tengah sentimen global yang belum sepenuhnya kondusif.

Bagi investor, perdagangan hari ini menjadi pengingat bahwa pelemahan IHSG tidak otomatis berarti seluruh saham bergerak turun. Saham energi masih mampu mencatat momentum, sementara sejumlah saham defensif dan kesehatan juga menunjukkan daya tahan. (red)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru