JAKARTA – Bursa saham Indonesia kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin (21/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 0,88 persen atau 56,43 poin ke level 6.384,73.
Pergerakan IHSG sepanjang perdagangan cenderung berada di zona merah. Indeks sempat dibuka di kisaran 6.446 dan kemudian bergerak hingga titik terendah 6.381,57 sebelum akhirnya ditutup di 6.384,73.
Tekanan juga terlihat dari mayoritas saham yang diperdagangkan. Data pasar menunjukkan 354 saham melemah, 280 saham menguat dan 156 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp11,85 triliun dengan volume perdagangan 26,91 miliar saham.
Dari sisi sektoral, delapan sektor berakhir di zona merah. Infrastruktur menjadi sektor dengan penurunan terdalam, yakni 1,38 persen. Sektor energi turun 0,93 persen, barang konsumen primer 0,94 persen, sedangkan sektor keuangan terkoreksi 0,36 persen.
Di tengah tekanan tersebut, sektor transportasi dan logistik masih mampu menguat 0,55 persen. Sektor kesehatan juga naik 0,21 persen, sementara properti relatif stagnan dengan kenaikan sekitar 0,005 persen.
Tekanan terhadap saham berkapitalisasi besar turut membebani indeks. Pada sesi pertama, investor asing tercatat melakukan net sell Rp216,24 miliar. Saham ANTM, BMRI dan TLKM termasuk yang banyak dilepas asing pada sesi tersebut.
Perhatian pelaku pasar kini juga mengarah ke Bank Indonesia. Pasar menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung pekan ini. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan keputusan BI menjadi salah satu perhatian pasar di tengah perubahan arah kebijakan suku bunga global.
Sementara itu, saham-saham yang bergerak berlawanan dengan tekanan indeks tetap bermunculan. CSMI tercatat menjadi salah satu top gainer dengan kenaikan 34,48 persen, disusul TRUE sebesar 34,33 persen dan BBSS yang naik 29,11 persen.
Sebaliknya, FORU menjadi salah satu saham dengan penurunan terbesar, yakni 14,95 persen, disusul KICI yang turun 14,77 persen dan JARR sebesar 10,28 persen.
Dengan penutupan di 6.384,73, perhatian investor berikutnya tertuju pada perkembangan kebijakan moneter domestik, pergerakan rupiah, arus dana asing serta kemampuan sejumlah sektor utama menjaga perdagangan agar tekanan tidak berlanjut. (red)





