TANGSEL – Pemerintah Provinsi Banten mulai melihat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Tanjung Lesung bukan sekadar destinasi untuk menikmati pantai. Kawasan di Kabupaten Pandeglang tersebut diproyeksikan menjadi salah satu penggerak ekonomi baru yang mampu menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, sekaligus menghidupkan aktivitas usaha masyarakat di wilayah Banten Selatan.
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan potensi tersebut harus dikelola secara serius. Menurutnya, keberadaan destinasi wisata akan jauh lebih berarti apabila mampu menghasilkan dampak ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.
“Kami berharap KEK Tanjung Lesung dapat langsung memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di daerah sekitar Tanjung Lesung,” kata Andra saat menerima kunjungan PT Banten West Java (BWJ) Tourism Development di Kantor Gubernur eks BLKI Serpong, Kota Tangerang Selatan, Rabu (19/8/2026).
Optimisme itu tidak berdiri sendiri. Pengembangan Tanjung Lesung kini mendapat dukungan dari pembangunan konektivitas menuju wilayah Banten Selatan. Salah satu yang paling ditunggu adalah penyelesaian Jalan Tol Serang–Panimbang sepanjang 83,67 kilometer, yang menghubungkan Serang, Rangkasbitung hingga Panimbang. Ruas tersebut terdiri atas tiga seksi, dengan Seksi 1 Serang–Rangkasbitung telah beroperasi.
Khusus Seksi 3 Cileles–Panimbang sepanjang 33 kilometer, pemerintah masih melanjutkan pembangunan secara bertahap. Data Kementerian Pekerjaan Umum pada Januari 2026 mencatat progres konstruksinya mencapai 73,68 persen dan ditargetkan rampung pada 2027. Kehadiran ruas ini diharapkan semakin membuka akses menuju Tanjung Lesung dan destinasi wisata lain di Pandeglang serta Banten Selatan.
“Tol Serang-Panimbang jika sudah beroperasi hingga Panimbang, ini tentunya juga menjadi salah satu daya dukung infrastruktur menuju Tanjung Lesung dan destinasi wisata lainnya,” ujar Andra.
Bagi pengelola kawasan, terbukanya akses transportasi menjadi peluang besar untuk kembali menghidupkan investasi. Presiden Direktur PT BWJ Tourism Development Purnomo Siswoprastijo mengungkapkan total investasi yang telah masuk ke kawasan Tanjung Lesung bersama sejumlah investor telah mencapai lebih dari Rp2,5 triliun. Aktivitas pengembangan dan berbagai kegiatan di kawasan itu juga telah menyerap sekitar 6.500 tenaga kerja.
“Ke depan, dengan selesainya jalan tol Serang-Panimbang, tentunya ini akan menimbulkan lagi perkembangan untuk investasi di bidang pariwisata di kawasan Tanjung Lesung dan juga tentunya akan mendongkrak kawasan-kawasan di sekitarnya,” kata Purnomo.
Dampak yang diharapkan bukan hanya terjadi di dalam kawasan KEK. Konektivitas jalan tol dirancang untuk memperkuat hubungan antara pusat pertumbuhan ekonomi Banten dengan wilayah selatan. Kementerian PU menyebut perjalanan Jakarta menuju Tanjung Lesung yang sebelumnya dapat mencapai 4–5 jam diproyeksikan menjadi sekitar 2–3 jam setelah konektivitas tol tersambung.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten Ely Susiyana mengatakan pemerintah ingin mengubah pola pikir wisatawan agar Banten masuk dalam daftar tujuan liburan utama. “Ini adalah salah satu KEK pariwisata tertua sebetulnya dan memang ini kita dorong karena harapan Pak Gubernur ke depan kita merubah top of mind para calon wisatawan, agar tujuannya sekarang ke Banten aja,” ujarnya.
Sementara Kepala DPMPTSP Provinsi Banten Virgojanti menilai momentum penyelesaian Tol Serang–Panimbang harus diikuti kesiapan kawasan. Pembenahan fasilitas, peningkatan kualitas layanan, renovasi sarana, serta promosi dinilai penting agar kemudahan akses benar-benar dikonversi menjadi peningkatan kunjungan dan investasi. Pemerintah sendiri menyebut konektivitas tol berpotensi memperkuat pertumbuhan ekonomi di sepanjang koridor Banten Selatan.
Dengan investasi yang telah mencapai triliunan rupiah dan ribuan tenaga kerja yang sudah terserap, Tanjung Lesung kini berada pada fase penting. Tantangannya bukan lagi sekadar membuat wisatawan datang, melainkan memastikan setiap kunjungan menghasilkan perputaran ekonomi bagi hotel, restoran, pelaku UMKM, pekerja lokal, transportasi, hingga masyarakat di desa-desa sekitar.
Jika akses, fasilitas dan promosi dapat bergerak dalam irama yang sama, Tanjung Lesung berpeluang berubah dari kawasan wisata yang selama ini dikenal sebagai destinasi pantai menjadi simpul pertumbuhan ekonomi baru Banten. Harapan tersebut sekaligus menjadi alasan mengapa penyelesaian konektivitas menuju Panimbang kini dipandang sebagai salah satu kunci masa depan pariwisata Banten Selatan. (red)





