Jumat, Mei 1, 2026
spot_img
BerandaBantenKota TangerangMay Day di Tangerang: Ada yang Demo, Ada yang Bertahan di Balik...

May Day di Tangerang: Ada yang Demo, Ada yang Bertahan di Balik Mesin

TANGERANG – Hari Buruh Internasional atau May Day di Tangerang Raya tidak hanya diwarnai barisan massa yang bergerak ke jalan, tetapi juga cerita lain yang berjalan diam-diam di balik mesin pabrik yang tetap menyala. Di satu sisi, ribuan buruh memilih turun ke jalan menyuarakan tuntutan. Di sisi lain, tak sedikit yang tetap bekerja, memikul realitas yang tak kalah berat.

Sejak pagi, kawasan industri seperti Cikupa, Balaraja, hingga Jatiuwung menjadi titik pergerakan buruh. Mereka berkumpul sebelum berangkat ke Jakarta untuk bergabung dalam aksi yang lebih besar. Spanduk tuntutan dibentangkan—soal upah layak, penghapusan outsourcing, hingga kepastian kerja yang lebih manusiawi.

“Ini bukan sekadar aksi, tapi perjuangan supaya hidup kami lebih layak,” ujar Rendi (32), buruh pabrik yang ikut berangkat ke Jakarta.

Bagi mereka yang turun ke jalan, Hari Buruh adalah momentum langka untuk bersuara. Di tengah rutinitas kerja yang padat, aksi menjadi ruang untuk menyampaikan keresahan yang selama ini terpendam.

Namun di sudut lain, pabrik-pabrik tetap beroperasi. Mesin tetap berputar, dan sebagian buruh memilih (terpaksa) untuk tetap bekerja. Ada yang khawatir potongan gaji, ada pula yang tidak ingin mengambil risiko terhadap status pekerjaannya.

“Sebenarnya ingin ikut, tapi kalau nggak masuk, ya kepotong. Kebutuhan juga jalan terus,” kata Siti (28), pekerja di kawasan industri Jatiuwung.

Pilihan ini bukan soal keberanian atau kepedulian, melainkan soal realitas. Di tengah tekanan ekonomi, satu hari tanpa penghasilan bisa berdampak langsung pada kebutuhan rumah tangga.

Fenomena dua sisi ini memperlihatkan wajah buruh yang kompleks. Ada yang berteriak di jalan, ada yang tetap diam di tempat kerja—keduanya sama-sama berjuang dengan cara masing-masing.

Secara data, kawasan industri Tangerang Raya menampung ratusan ribu pekerja dari berbagai sektor manufaktur. Dengan jumlah sebesar itu, tidak semua memiliki ruang yang sama untuk bersuara di jalan.

Hari Buruh akhirnya tidak hanya tentang aksi, tetapi juga tentang pilihan. Antara turun ke jalan memperjuangkan hak, atau tetap bekerja demi memastikan dapur tetap mengepul.

Karena di balik spanduk dan orasi, ada cerita yang lebih sunyi—tentang mereka yang tetap bekerja, namun membawa harapan yang sama: hidup yang lebih layak. (red)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru