BerandaBantenTangerang SelatanPuluhan Inovasi Menjamur di Tangsel, Benyamin: Jangan Berhenti Jadi Penghargaan

Puluhan Inovasi Menjamur di Tangsel, Benyamin: Jangan Berhenti Jadi Penghargaan

TANGSEL – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) ingin mengubah cara pandang terhadap inovasi birokrasi. Bagi Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie, ukuran keberhasilan inovasi bukan banyaknya aplikasi atau penghargaan yang diraih, melainkan seberapa jauh terobosan tersebut membuat urusan warga menjadi lebih mudah.

“Inovasi itu harus memberikan kemudahan, terutama dalam pelayanan publik bagi masyarakat. Jadi, inovasi dari kita ini harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Benyamin, Kamis (20/8/2026).

Pesan tersebut menjadi penting di tengah tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang cepat dan praktis. Tangsel sendiri memiliki 34 puskesmas pada 2024, ditambah rumah sakit dan berbagai fasilitas kesehatan lainnya. Besarnya jaringan layanan membuat inovasi di tingkat fasilitas kesehatan berpotensi langsung menyentuh kebutuhan warga.

Benyamin mengatakan perkembangan teknologi tidak memungkinkan pemerintah bekerja dengan pola lama. Digitalisasi harus digunakan untuk memangkas proses yang panjang, mempercepat informasi, sekaligus mendekatkan layanan kepada masyarakat.

“Zaman sekarang, semua pelayanan harus berbasis teknologi, sehingga masyarakat merasakan kemudahan dan kecepatan dalam setiap pelayanan yang kita hadirkan,” katanya.

Di tingkat perangkat daerah, pendekatan itu terlihat melalui SISTARI milik Bappelitbangda yang mengelola basis data riset dan inovasi, serta Petakan Asetku dari BKAD untuk memperkuat pengamanan aset tanah menggunakan pemetaan digital berbasis koordinat. Kecamatan Ciputat Timur juga menghadirkan SAPU CIPTIM, sementara Dispora mengembangkan sistem informasi pelayanan kepegawaian.

Sektor kesehatan menjadi salah satu ruang paling aktif untuk melahirkan terobosan. Rumah sakit mengembangkan layanan seperti HERO untuk registrasi elektronik, informasi antrean secara langsung hingga sistem pemantauan aktivitas. Di puskesmas, inovasi diarahkan pada persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan warga, mulai dari pengendalian tuberkulosis, hipertensi, diabetes, imunisasi, kesehatan ibu-anak, stunting, kesehatan jiwa hingga pemberantasan jentik nyamuk.

Beberapa program bahkan dirancang agar pelayanan bergerak mendekati masyarakat. Ada Ngider TB, skrining TBC, layanan ibu hamil, program kepatuhan minum obat, hingga inovasi yang menggabungkan puskesmas dengan RT dan lintas sektor. Artinya, inovasi tidak selalu berbentuk teknologi canggih; cara baru mendatangi, mengingatkan, mendampingi, dan menghubungkan warga dengan layanan kesehatan juga menjadi bagian dari pembaruan pelayanan.

Banyaknya terobosan tersebut menunjukkan bahwa inovasi Tangsel kini bergerak dari level kantor pemerintahan hingga layanan paling dekat dengan masyarakat. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan setiap inovasi tidak sekadar memiliki nama unik dan sistem baru, melainkan benar-benar digunakan, dievaluasi, dan dipertahankan ketika terbukti efektif.

Benyamin pun menegaskan, teknologi hanyalah alat. Tujuan akhirnya tetap sama, yakni membuat masyarakat memperoleh pelayanan yang lebih cepat, mudah dan berkualitas. Dengan demikian, inovasi terbaik bukan yang paling ramai dipamerkan, tetapi yang membuat warga berkata: “urusan saya sekarang jauh lebih gampang”. (red)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru