BerandaBantenTangerangSatu Bulan Mengabdi, Seribu Kenangan: KKN UMT 2026 Resmi Ditutup, 26 Mahasiswa...

Satu Bulan Mengabdi, Seribu Kenangan: KKN UMT 2026 Resmi Ditutup, 26 Mahasiswa Berat Tinggalkan Desa Pasir Nangka

TIGARAKSA – Suasana haru menyelimuti Aula Balai Desa Pasir Nangka, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Rabu (19/08/2026). Sebanyak 26 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) 2026 resmi mengakhiri rangkaian pengabdian mereka setelah satu bulan berbaur, belajar dan bekerja bersama masyarakat.

Penutupan sekaligus penarikan peserta KKN tersebut menjadi momentum yang tidak sekadar menandai berakhirnya program pengabdian, tetapi juga menjadi perpisahan antara mahasiswa dan masyarakat yang selama satu bulan telah tumbuh dalam suasana kebersamaan.

Kegiatan KKN UMT 2026 di Desa Pasir Nangka dikomandoi oleh Teuku Fikri, dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Drs. Achmad Haromain, M.I.Kom.

Acara tersebut dihadiri Kepala Desa Pasir Nangka Haji Syahroni, SE, Sekretaris Desa Pasir Nangka Toto Heryanto, Aipda Bayu Selaku Binamas, Serka Wastono selaku Babinsa, serta Purwanto, Ketua RT 04/RW 09 Perumahan Mustika Tigaraksa, bersama Ibu Ria dan perwakilan warga.

RT 04/RW 09 Perumahan Mustika menjadi salah satu titik pengabdian mahasiswa KKN UMT 2026. Berbagai program dirancang dengan mengacu pada tema sentral KKN UMT 2026, yaitu “Kampung Cerdas Lingkungan: Integritas Teknologi dan Kesadaran Ekologis dalam Pembangunan Masyarakat.”

Dari Sampah Menjadi Manfaat

Salah satu program yang mendapat perhatian masyarakat adalah workshop lingkungan yang dilaksanakan pada 7 Agustus 2026. Kegiatan tersebut berupa pelatihan pembuatan pupuk cair organik, kompos, serta pemanfaatan Maggot BSF.

Warga RT 04/RW 09 mengikuti kegiatan dengan antusias. Mahasiswa tidak hanya memberikan edukasi mengenai pengolahan limbah, tetapi juga mengajak warga memanfaatkan galon bekas menjadi pot tanaman.

Pot-pot tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menanam berbagai tanaman TOGA dan tanaman pangan, seperti cabai, tomat, jahe, kencur, kunyit dan sereh.

Program ini dilakukan melalui kolaborasi mahasiswa KKN dengan kaum ibu di lingkungan masyarakat. Dari limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, warga diajak menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga.

Menanam Kesadaran Sejak Dini

Gerakan peduli lingkungan juga menyasar generasi muda.

Mahasiswa KKN memberikan edukasi tentang pentingnya membuang dan memilah sampah dengan benar, khususnya membedakan sampah organik dan nonorganik, kepada siswa TK Al-Fatin, PAUD Cendrawasih 02 yang dibina langsung oleh Ibu Kepala Desa, serta sejumlah siswa sekolah dasar, termasuk SD Cogrek dan SD Kedodong.

Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dari program “Kampung Cerdas Lingkungan”, karena kesadaran ekologis tidak cukup hanya dibangun melalui fasilitas, tetapi juga melalui perubahan perilaku sejak usia dini.

Tidak Hanya Program, Tetapi Juga Kebersamaan

Selama menjalankan KKN, mahasiswa juga tidak hanya berfokus pada program kerja. Mereka ikut hadir dalam berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan.

Mulai dari kegiatan Posyandu, pengajian, senam bersama, hingga kegiatan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada momentum 17 Agustus 2026, mahasiswa bahkan ikut mengambil bagian sebagai petugas upacara bersama warga RW 09. Kebersamaan tersebut akan kembali berlanjut karena mahasiswa dijadwalkan ikut memeriahkan malam puncak peringatan 17 Agustus pada 22 Agustus 2026.

Sebagai kenang-kenangan, mahasiswa KKN UMT meninggalkan tong pembuatan kompos untuk dimanfaatkan masyarakat RT 04 Perumahan Mustika.

Sederhana, tetapi memiliki makna: sebuah simbol bahwa pengabdian boleh berakhir, tetapi semangat menjaga lingkungan diharapkan terus berjalan.

“Baru Kemarin Bertemu, Hari Ini Harus Berpisah”

Momen penarikan mahasiswa menjadi bagian paling emosional dalam kegiatan tersebut.

Satu bulan ternyata cukup untuk membangun kedekatan. Mahasiswa yang awalnya datang sebagai orang luar, perlahan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Begitu pula warga yang awalnya hanya menjadi tempat mahasiswa menjalankan program, akhirnya menjadi keluarga baru selama menjalani KKN.

Perasaan itu tergambar dari suasana perpisahan yang penuh haru. Sebagian mahasiswa dan warga bahkan merasa waktu berjalan begitu cepat.

“Rasanya baru kemarin bertemu, tetapi hari ini sudah harus berpisah,” menjadi gambaran suasana yang terasa dalam penutupan KKN tersebut.

Bagi mahasiswa, Desa Pasir Nangka bukan lagi sekadar lokasi KKN. Ia menjadi ruang belajar tentang kehidupan nyata: tentang gotong royong, kepedulian, kesederhanaan, dan bagaimana sebuah program kecil dapat memiliki arti ketika dikerjakan bersama masyarakat.

Sebaliknya, bagi masyarakat, kehadiran 26 mahasiswa UMT meninggalkan cerita dan kenangan tersendiri.

Penarikan mahasiswa memang menandai berakhirnya masa KKN secara administratif. Namun, nilai pengabdian diharapkan tidak berhenti bersamaan dengan kepulangan mereka.

Satu bulan telah berlalu. Program boleh selesai, mahasiswa boleh kembali ke kampus, tetapi benih kesadaran ekologis, semangat gotong royong dan persaudaraan yang telah tumbuh di Desa Pasir Nangka diharapkan terus hidup.

Karena pada akhirnya, KKN bukan hanya tentang apa yang mahasiswa berikan kepada masyarakat, tetapi juga tentang apa yang masyarakat tanamkan di hati mahasiswa untuk dibawa pulang dan dikenang sepanjang perjalanan kehidupan. (Jiyong)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru