TANGSEL – Ambisi besar Pemerintah Kota Tangerang Selatan untuk menjadikan layanan kesehatan pemerintah setara rumah sakit swasta mulai digaungkan. Namun di balik visi tersebut, muncul pertanyaan yang tak bisa dihindari: sejauh mana kesiapan fasilitas kesehatan daerah mampu menjawab ekspektasi tinggi masyarakat?
Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan, secara tegas mendorong RSUD dan puskesmas melakukan transformasi menyeluruh. Ia menilai layanan kesehatan pemerintah tidak boleh lagi dipandang sebagai pilihan terakhir.
“Kita harus berani naik kelas. Standarnya bukan lagi sesama daerah, tapi rumah sakit swasta unggulan, baik dari sisi medis maupun hospitality,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat arah kebijakan kesehatan di Tangsel. Namun, di sisi lain, realita di lapangan masih menyisakan sejumlah tantangan klasik: antrean panjang, keterbatasan fasilitas, hingga kualitas layanan yang belum merata antarwilayah.
Target menghadirkan layanan setara rumah sakit premium seperti RSCM Kencana tentu bukan perkara sederhana. Selain membutuhkan investasi besar, hal ini juga menuntut perubahan budaya pelayanan, peningkatan kompetensi tenaga medis, serta sistem manajemen yang lebih modern dan responsif.
Pemkot Tangsel sendiri berencana membangun gedung baru RSUD sebagai bagian dari peningkatan kapasitas layanan. Namun, tanpa pembenahan menyeluruh, pembangunan fisik berisiko tidak diikuti peningkatan kualitas pelayanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Di tingkat layanan dasar, Pilar juga menyoroti pentingnya standardisasi puskesmas. Ia menginginkan kualitas pelayanan yang seragam, sehingga warga tidak lagi bergantung pada lokasi tertentu untuk mendapatkan layanan terbaik.
“Saya ingin masyarakat mendapatkan pengalaman yang sama di semua puskesmas. Tidak boleh ada perbedaan kualitas layanan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar, mengungkapkan target peningkatan status RSU Pamulang menjadi tipe B sebelum 2030. Target ini menjadi bagian dari strategi besar menuju konsep health tourism.
Namun, tantangan menuju target tersebut tidak ringan. Kenaikan tipe rumah sakit tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut kelengkapan layanan spesialis, ketersediaan tenaga medis, serta kualitas manajemen pelayanan.
“Semua harus berbenah dan berinovasi. Kita harus siap bersaing, terutama jika ingin masuk ke konsep medical tourism,” ujarnya.
Saat ini, Tangsel memiliki tiga RSU di Pamulang, Serpong Utara, dan Pondok Aren. RSU Pamulang diproyeksikan sebagai pusat layanan utama, sementara dua lainnya menjadi penopang sistem kesehatan kota.
Pertanyaannya, mampukah transformasi ini berjalan konsisten dan menjawab kebutuhan nyata masyarakat? Sebab bagi warga, kualitas layanan kesehatan tidak diukur dari konsep besar atau rencana jangka panjang, melainkan dari pengalaman langsung saat mereka datang berobat.
Jika pembenahan dilakukan secara serius dan menyentuh akar persoalan, Tangsel berpeluang menjadi kota dengan layanan kesehatan unggulan. Namun jika tidak, ambisi besar ini bisa kembali menjadi wacana yang sulit diwujudkan sepenuhnya. (red)





