BerandaBanten345 Km dari Titik Hilang, Misteri 5 Jurnalis Belum Terjawab

345 Km dari Titik Hilang, Misteri 5 Jurnalis Belum Terjawab

TANGERANG – Misteri hilangnya lima jurnalis bersama awak KM Arupadhatu I di perairan Selat Sunda kembali menyisakan tanda tanya besar. Setelah lebih dari dua pekan, satu titik terang muncul ketika jenazah salah satu kru kapal ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, sekitar 345 kilometer dari titik terakhir rombongan terdeteksi.

Jenazah yang ditemukan pada 12 September 2026 tersebut akhirnya dipastikan sebagai Surakman, salah satu kru KM Arupadhatu I. Identifikasi dilakukan melalui pemeriksaan Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri, termasuk pencocokan DNA dengan keluarga korban. Kepastian identitas disampaikan pada 23 September.

Temuan ini sekaligus memberikan petunjuk mengenai kemungkinan pergerakan korban setelah kapal hilang kontak. BMKG menjelaskan, arus di wilayah Selat Sunda bagian barat Pandeglang bergerak ke arah barat dengan kecepatan yang dapat mencapai sekitar 1,5 meter per detik atau sekitar 5,4 kilometer per jam.

Kepala BMKG Wilayah II Ana Oktavia Setiowati menjelaskan, ketika objek telah keluar dari Selat Sunda dan masuk ke Samudra Hindia, pola arus dapat bergerak ke arah barat laut hingga wilayah perairan Bengkulu. Kondisi tersebut dinilai dapat menjelaskan bagaimana jenazah Surakman akhirnya ditemukan di Pulau Enggano.

Jarak tersebut menjadi bagian penting dalam pencarian. Berdasarkan data yang dikutip dari Komdigi dan pengukuran geografis, titik terakhir rombongan terdeteksi berada di sekitar Pulau Sebesi, sementara Pulau Enggano berada di Samudra Hindia. Jarak kedua lokasi sekitar 345,05 kilometer.

Namun, temuan Surakman belum menjawab pertanyaan terbesar: di mana lima jurnalis yang berada di kapal tersebut, serta dua kru lainnya? Lima jurnalis yang masih hilang adalah M Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency dan Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas. Dua kru lainnya yakni Warta selaku kapten kapal dan Heriyanto sebagai pemandu.

KM Arupadhatu I sebelumnya bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB. Rombongan tersebut berangkat untuk melakukan peliputan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Komunikasi terakhir tercatat pada hari yang sama sebelum rombongan akhirnya dinyatakan hilang kontak.

Basarnas sebelumnya telah memperluas wilayah pencarian hingga pesisir Bengkulu dan Pulau Enggano sebagai langkah antisipasi kemungkinan korban terbawa arus laut. Operasi pencarian berlangsung selama 10 hari dan kemudian dihentikan. Setelah Surakman berhasil diidentifikasi, Basarnas disebut masih melakukan koordinasi dan pemantauan, sementara belum ada kepastian operasi SAR terpadu akan dibuka kembali.

Di sisi lain, penemuan Surakman memunculkan desakan dari kalangan jurnalis agar petunjuk baru tersebut kembali ditindaklanjuti. Pewarta Foto Indonesia (PFI) meminta pencarian terhadap lima jurnalis dan dua kru kapal dilanjutkan dengan mempertimbangkan kemungkinan jalur hanyut menuju Samudra Hindia.

Kini, pertanyaan mengenai KM Arupadhatu I dan tujuh orang yang masih hilang belum terjawab. Jika arus laut memang membawa Surakman sejauh ratusan kilometer hingga Pulau Enggano, temuan tersebut menjadi petunjuk penting untuk memetakan kembali kemungkinan arah pergerakan korban maupun kapal. Misteri lima jurnalis itu pun masih menyisakan harapan sekaligus pekerjaan besar bagi pencarian berikutnya. (red)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru