BerandaKesehatanSegarnya Es Teh Manis, Ada Risiko di Balik Tiap Tegukan!

Segarnya Es Teh Manis, Ada Risiko di Balik Tiap Tegukan!

Saat matahari sedang terik, segelas es teh manis dengan es batu yang memenuhi gelas memang sulit ditolak. Apalagi setelah berjalan di luar ruangan atau menyantap makanan pedas, minuman sederhana ini kerap menjadi pilihan pertama untuk melepas dahaga.

Harganya terjangkau, mudah ditemukan, dan rasanya sudah akrab di lidah masyarakat Indonesia. Dari warung makan hingga restoran, es teh manis hampir selalu tersedia sebagai teman bersantap.

Namun, di balik kesegarannya, ada hal yang sering luput dari perhatian, yakni jumlah gula yang ikut masuk ke tubuh. Satu gelas mungkin terasa biasa saja, tetapi bagaimana jika kebiasaan tersebut berlangsung beberapa kali dalam sehari?

Haus karena Panas, Mengapa Justru Mencari yang Manis?

Ketika cuaca panas, tubuh secara alami mengeluarkan keringat untuk menjaga suhu tetap stabil. Semakin banyak cairan yang keluar, semakin besar pula kebutuhan tubuh untuk menggantinya.

Rasa haus kemudian muncul sebagai sinyal bahwa tubuh memerlukan cairan. Sayangnya, keinginan untuk minum sering kali langsung dijawab dengan minuman dingin yang memiliki rasa manis.

Padahal, tubuh tidak selalu membutuhkan gula untuk mengatasi dahaga. Air putih sudah cukup menjadi pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan cairan pada aktivitas sehari-hari.

Es teh manis tetap boleh dinikmati, tetapi sebaiknya tidak terus-menerus dijadikan pengganti air putih.

Satu Gelas Terasa Sedikit, Gulanya Bisa Banyak

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengingatkan masyarakat agar membatasi konsumsi gula harian maksimal 50 gram atau setara empat sendok makan.

Ketentuan tersebut tidak hanya berlaku untuk gula yang dicampurkan ke dalam minuman, melainkan juga seluruh gula yang dikonsumsi dari makanan dan minuman sepanjang hari.

Sebagai contoh, apabila satu gelas es teh mengandung 20 gram gula, meminum dua gelas berarti sudah mengonsumsi 40 gram gula.

Jumlah itu setara 80 persen dari batas harian yang dianjurkan Kementerian Kesehatan. Padahal, seseorang mungkin masih mengonsumsi roti manis, biskuit, kopi susu, atau makanan lain yang mengandung gula.

Artinya, tanpa perlu menyantap banyak makanan manis sekalipun, asupan gula bisa meningkat hanya dari kebiasaan memilih minuman.

Terlalu Sering Minum Manis, Ini Risiko yang Mengintai

Berdasarkan informasi Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis terlalu sering berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan, termasuk kenaikan berat badan, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan kerusakan gigi.

Ada beberapa dampak yang perlu diperhatikan.

  1. Berat Badan Diam-Diam Bertambah

Minuman manis dapat menyumbang kalori tambahan tanpa memberikan rasa kenyang seperti makanan padat.

Akibatnya, seseorang mungkin tetap makan dalam porsi biasa meskipun sudah mendapatkan cukup banyak kalori dari minuman.

Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus dan energi yang masuk lebih besar daripada yang digunakan tubuh, berat badan berpotensi meningkat.

  1. Risiko Diabetes Tipe 2 Meningkat

Konsumsi minuman tinggi gula secara berlebihan dan berulang berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2.

Meski demikian, penyakit ini tidak disebabkan oleh satu jenis minuman saja. Pola makan, aktivitas fisik, berat badan, riwayat keluarga, dan kondisi metabolisme juga memiliki peran.

Karena itu, membatasi gula merupakan salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan, bukan satu-satunya cara mencegah diabetes.

  1. Gigi Lebih Rentan Berlubang

Rasa manis yang tertinggal di mulut ternyata juga dapat memengaruhi kesehatan gigi.

Bakteri dalam plak gigi memanfaatkan gula dan menghasilkan asam yang dapat merusak enamel, terutama apabila paparan terjadi berulang kali.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut menekankan pentingnya mengurangi konsumsi gula bebas untuk membantu mencegah kerusakan gigi.

  1. Lidah Semakin Terbiasa dengan Rasa Manis

Sering memilih minuman dengan kadar gula tinggi dapat membuat rasa manis yang kuat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Akibatnya, teh dengan sedikit gula atau tanpa pemanis mungkin terasa kurang nikmat pada awalnya.

Kondisi ini bisa disiasati dengan mengurangi takaran gula secara perlahan agar lidah memiliki kesempatan menyesuaikan diri.

Bukan Berarti Es Teh Manis Harus Ditinggalkan

Menjaga kesehatan bukan berarti semua minuman favorit harus langsung dihapus dari menu sehari-hari.

Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi konsumsi, ukuran porsi, serta jumlah pemanis yang digunakan.

Saat membeli es teh di warung makan, misalnya, cobalah meminta gula lebih sedikit daripada biasanya. Jika membuat sendiri di rumah, takaran gula dapat diatur sesuai kebutuhan.

Pilihan lainnya adalah menikmati teh tawar dingin dengan tambahan irisan lemon atau daun mint untuk memberikan sensasi segar tanpa tambahan gula.

Kebiasaan membawa botol air putih juga bisa membantu mengurangi keinginan membeli minuman manis setiap kali merasa haus.

Sementara itu, bagi penggemar minuman kemasan, membaca informasi nilai gizi menjadi langkah penting. Perhatikan kandungan gula per sajian sekaligus jumlah sajian dalam satu kemasan.

Jangan lupa memperhitungkan pemanis dari sirup, kental manis, dan berbagai topping yang sering ditambahkan ke dalam minuman kekinian.

WHO Ingatkan Pentingnya Membatasi Gula

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar konsumsi gula bebas berada di bawah 10 persen dari total asupan energi harian.

Bagi seseorang dengan kebutuhan energi 2.000 kalori per hari, jumlah tersebut setara kurang dari 50 gram gula. WHO juga menyebutkan bahwa pembatasan hingga 5 persen atau lebih rendah dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.

Gula bebas yang dimaksud mencakup gula yang ditambahkan ke makanan dan minuman, termasuk gula dalam madu, sirup, serta jus buah.

Anjuran ini menunjukkan bahwa menjaga asupan gula bukan sekadar mengurangi konsumsi makanan pencuci mulut, tetapi juga lebih bijak memilih minuman sehari-hari.

Tetap Segar Tanpa Harus Selalu Manis

Es teh manis memang memiliki tempat tersendiri sebagai minuman favorit, terutama ketika cuaca sedang panas. Namun, kesegaran sesaat sebaiknya tidak membuat seseorang mengabaikan jumlah gula yang dikonsumsi.

Mengurangi takaran pemanis, membatasi frekuensi minum es teh manis, dan memilih air putih saat haus merupakan langkah sederhana yang dapat diterapkan tanpa harus mengubah kebiasaan secara drastis.

Sebab, tubuh membutuhkan cairan untuk tetap terhidrasi, bukan tambahan gula setiap kali dahaga datang.

Menikmati es teh manis sesekali tentu tidak masalah bagi kebanyakan orang. Yang penting, jangan sampai segelas kesegaran berubah menjadi kebiasaan yang merugikan kesehatan dalam jangka panjang. (red)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru