Jumat, April 10, 2026
spot_img
BerandaOpiniSelaras Dengan Semesta Atau Bersandar Pada Allah?

Selaras Dengan Semesta Atau Bersandar Pada Allah?

Selaras dengan Semesta: Antara Energi, Pikiran, dan Ketenangan Jiwa

Belakangan ini, istilah “selaras dengan semesta” makin sering kita dengar. Di media sosial, banyak yang mengatakan bahwa jika kita berpikir positif, maka semesta akan mendukung. Jika hati tenang, maka hidup akan terasa mengalir.

Tapi sebenarnya… apa benar semesta “mengatur” hidup kita?

Atau ini hanya cara lain untuk menjelaskan sesuatu yang lebih dalam?

Semesta memang luar biasa. Segala sesuatu berjalan dengan keteraturan yang menakjubkan. Matahari terbit tepat waktu, siang dan malam berganti tanpa pernah terlambat, dan hukum alam bekerja tanpa kompromi.

Namun, keteraturan ini bukan berarti semesta mengatur nasib manusia secara personal.

Yang ada adalah:

* hukum sebab-akibat

* proses yang konsisten

* keteraturan yang bisa dipelajari

Artinya, hidup kita bukan ditentukan oleh “energi semesta yang memilih”, tapi oleh bagaimana kita berinteraksi dengan hukum kehidupan itu sendiri.

Lalu kenapa kita kadang merasa “selaras”?

Pernah ada momen di mana:

* hidup terasa ringan

* keputusan terasa tepat

* hati tenang, pikiran jernih

Seolah semuanya berjalan pas.

Itulah yang sering disebut sebagai “selaras dengan semesta”.

Padahal, yang terjadi adalah:

* pikiran kita tidak kacau

* emosi kita stabil

* tindakan kita terarah

Saat kondisi ini bertemu, hidup terasa mengalir.

Bukan karena semesta berubah,

tapi karena kita sedang berada dalam kondisi terbaik kita.

Antara Ilusi “Energi” dan Realita Ikhtiar

Di titik ini, muncul pertanyaan penting:

Kalau bukan semesta yang mengatur, kenapa hidup bisa berubah saat kita “mengatur energi”?

Jawabannya sederhana—karena yang berubah sebenarnya adalah cara kita berpikir dan bertindak.

Ketika seseorang mulai:

* berpikir lebih positif

* mengelola emosi

* berhenti overthinking

Dampaknya nyata:

* lebih percaya diri

* lebih berani mengambil peluang

* lebih konsisten dalam usaha

Dari luar, terlihat seperti semesta mendukung.

Padahal yang terjadi:

perubahan pola pikir → perubahan tindakan → perubahan hasil.

Inilah hukum kehidupan yang sebenarnya.

Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai.

Bukan karena energi magis, tapi karena:

* usaha melahirkan peluang

* disiplin menghasilkan konsistensi

* kesabaran menguatkan hasil

Namun, di sinilah letak bahayanya jika salah memahami konsep “energi semesta”.

Bisa membuat orang:

* pasif, hanya berharap tanpa usaha

* sibuk visualisasi tanpa aksi

* menyalahkan diri saat gagal

Padahal hidup tidak berubah karena dibayangkan,

tapi karena dikerjakan.

Di sinilah konsep penting itu muncul:

ikhtiar.

Ikhtiar bukan sekadar usaha, tapi usaha yang sungguh-sungguh, dengan arah yang jelas, dan dijalani dengan kesabaran.

Kita bergerak maksimal,

tapi tidak memaksakan hasil.

Bukan Selaras dengan Semesta, Tapi Bersandar pada Allah

Pada akhirnya, kita sampai pada satu titik kesadaran:

hidup ini bukan tentang “menyatu dengan semesta”.

Tapi tentang memahami posisi diri sebagai hamba.

Sering kali kita terlalu sibuk mencoba:

* mengendalikan keadaan

* memastikan hasil sesuai rencana

* mencari cara agar semuanya berjalan sempurna

Padahal tidak semua ada dalam kendali kita.

Di sinilah letak keindahan itu:

bersandar pada ketentuan Allah SWT.

Namun perlu diingat, bersandar bukan berarti menyerah.

Bersandar adalah:

* berikhtiar sekuat tenaga

* lalu menyerahkan hasil dengan penuh ketenangan

Bukan diam tanpa usaha,

dan bukan pula gelisah tanpa arah.

Keseimbangan inilah yang sering hilang.

Kita bergerak di bumi,

tapi hati tetap terhubung ke langit.

Ketika ini tercapai:

* kita tidak sombong saat berhasil

* tidak hancur saat gagal

* dan tidak kehilangan arah saat diuji

Karena kita tahu,

hasil bukan sepenuhnya milik kita.

Maka pada akhirnya:

Hidup bukan tentang menaklukkan semesta,

bukan pula tentang menarik energi yang tak terlihat.

Tapi tentang satu hal yang sederhana, namun dalam:

bersandar pada ketentuan Allah SWT.

Kita berusaha sekuat

yang kita mampu,

kita berdoa setulus yang kita bisa,

lalu kita lepaskan dengan tenang…

karena kita yakin,

apa yang Allah tetapkan

tak pernah salah arah. 🌿  (Jiyong 2026)

Achmad Haromain

Dosen FEB UMT

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru