Minggu, Mei 3, 2026
spot_img
BerandaOpiniHardiknas dan Pertanyaan Besar: Apakah Pendidikan Kita Sudah Memanusiakan Manusia?

Hardiknas dan Pertanyaan Besar: Apakah Pendidikan Kita Sudah Memanusiakan Manusia?

TANGERANG – Setiap 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Upacara digelar, pidato disampaikan, dan nama Ki Hajar Dewantara kembali disebut sebagai simbol perjuangan pendidikan. Namun di balik itu, ada pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab: apakah pendidikan kita benar-benar maju, atau hanya terlihat maju?

Sejarah mencatat, Ki Hajar Dewantara memperjuangkan pendidikan sebagai hak semua orang. Ia menolak sistem yang eksklusif dan membangun konsep pendidikan yang memanusiakan manusia—berbasis nilai asah, asih, dan asuh. Pendidikan bukan sekadar mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter dan empati.

Hari ini, akses pendidikan memang jauh lebih luas. Sekolah berdiri di mana-mana, teknologi masuk ke ruang kelas, dan berbagai program digital digulirkan. Namun, apakah kemajuan itu dirasakan secara merata?

Di banyak tempat, kualitas pendidikan masih timpang. Sekolah dengan fasilitas lengkap berdampingan dengan sekolah yang kekurangan sarana dasar. Guru dituntut adaptif terhadap teknologi, tetapi tidak semua mendapatkan dukungan yang memadai. Digitalisasi sering disebut sebagai solusi, tetapi bagi sebagian siswa, itu justru menjadi tantangan baru.

Lebih jauh lagi, pendidikan kita masih terlalu fokus pada angka. Nilai, ranking, dan capaian akademik menjadi ukuran utama keberhasilan. Siswa didorong untuk mengejar prestasi, tetapi sering kali mengabaikan kesehatan mental dan ruang berkembang yang manusiawi.

Ironisnya, di tengah jargon “pendidikan karakter”, kasus perundungan dan kekerasan di sekolah masih terjadi. Ini menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membangun nilai yang seharusnya menjadi fondasi utama.

Hardiknas seharusnya menjadi momen refleksi, bukan sekadar seremoni. Namun yang sering terjadi, peringatan ini berhenti pada simbol—tanpa diikuti perubahan nyata di ruang kelas.

Pemerintah berbicara tentang kebijakan, sekolah berbicara tentang kurikulum, dan masyarakat berbicara tentang harapan. Tapi di tengah itu, siswa dan guru menghadapi realitas sehari-hari yang tidak selalu ideal.

Pertanyaannya sederhana: apakah pendidikan kita sudah benar-benar memanusiakan manusia, atau masih terjebak dalam sistem yang menuntut tanpa memahami?

Jika pendidikan hanya menghasilkan siswa yang pintar secara akademik tetapi kehilangan empati, maka ada yang salah. Jika guru dibebani target tanpa ruang berkembang, maka sistem perlu dievaluasi. Dan jika kesenjangan masih terus terjadi, maka kemajuan itu belum bisa disebut utuh.

Hardiknas tidak seharusnya hanya menjadi pengingat masa lalu, tetapi juga cermin masa kini. Bahwa pekerjaan rumah pendidikan masih banyak, dan tidak bisa diselesaikan dengan seremoni tahunan.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal seberapa tinggi capaian, tetapi seberapa dalam dampaknya bagi manusia. (opini pinggir jalan)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru