TANGSEL – Transformasi industri yang dipicu oleh perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga digitalisasi manufaktur membuat kebutuhan tenaga kerja di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (Science, Technology, Engineering, and Mathematics/STEM) terus meningkat. Kondisi tersebut menjadi momentum bagi pelajar untuk mulai melirik pendidikan teknik sebagai bekal menghadapi dunia kerja masa depan.
Berbagai sektor industri saat ini tengah berlomba mengadopsi teknologi modern untuk meningkatkan efisiensi produksi. Mulai dari pembangunan infrastruktur, otomasi pabrik, pengembangan smart city, industri semikonduktor, hingga proyek transisi energi hijau membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan teknis dan inovatif.
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Pilar Saga Ichsan, mengatakan Indonesia membutuhkan lebih banyak lulusan teknik yang mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi global. Menurutnya, semangat berkompetisi yang dimiliki pelajar harus dibarengi dengan kesiapan menghadapi kebutuhan industri yang terus berubah.
“Indonesia saat ini membutuhkan banyak lulusan di bidang teknik dan STEM. Dengan banyaknya program studi teknik yang tersedia, Institut Teknologi Indonesia telah melahirkan banyak teknokrat dan ahli hebat,” ujar Pilar saat membuka Kejuaraan Bola Basket Antarpelajar SLTA se-Provinsi Banten di Institut Teknologi Indonesia (ITI), Sabtu (1/8/2026).
Menurut Pilar, olahraga dan pendidikan memiliki keterkaitan yang kuat dalam membentuk karakter generasi muda. Disiplin, kepemimpinan, kemampuan bekerja sama, hingga daya juang yang ditempa di lapangan menjadi modal penting untuk sukses di bangku kuliah maupun dunia profesional.
Fenomena meningkatnya kebutuhan tenaga STEM juga terlihat dari berbagai investasi baru di Indonesia. Pemerintah terus mendorong pengembangan kawasan industri, hilirisasi sumber daya alam, pembangunan ekosistem kendaraan listrik, pusat data (data center), industri baterai, hingga energi baru terbarukan. Seluruh sektor tersebut membutuhkan insinyur, analis data, ahli robotika, pengembang perangkat lunak, hingga tenaga ahli di bidang otomasi.
Laporan World Economic Forum melalui Future of Jobs Report menunjukkan bahwa profesi di bidang AI, analisis data, keamanan siber, rekayasa perangkat lunak, energi terbarukan, dan teknik diproyeksikan menjadi kelompok pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat dalam beberapa tahun ke depan. Sementara itu, berbagai pekerjaan yang bersifat administratif dan rutin diperkirakan akan semakin banyak tergantikan oleh otomatisasi dan kecerdasan buatan.
Di Indonesia, kebutuhan tersebut juga sejalan dengan agenda transformasi ekonomi nasional. Proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), pengembangan kawasan industri hijau, perluasan jaringan transportasi, serta percepatan transformasi digital membuka peluang besar bagi lulusan teknik untuk berkarier di sektor publik maupun swasta.
Sebagai alumnus Program Profesi Insinyur Institut Teknologi Indonesia, Pilar menilai ITI memiliki pengalaman panjang dalam mencetak lulusan yang berkontribusi di berbagai sektor strategis. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang menguasai teori, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
“Prestasi olahraga dan prestasi akademik bukan dua hal yang saling bertentangan. Justru keduanya dapat berjalan beriringan untuk membentuk generasi muda yang tangguh, inovatif, dan siap bersaing di tingkat global,” katanya.
Pengamat pendidikan, Prof. Arief Rachman, menilai penguatan pendidikan STEM perlu dimulai sejak jenjang sekolah menengah agar minat generasi muda terhadap bidang teknik semakin meningkat.
“Masa depan dunia kerja akan semakin dipengaruhi oleh teknologi. Karena itu, pelajar perlu membangun kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, dan menguasai literasi digital agar mampu bersaing di era AI,” ujarnya.
Dengan bonus demografi yang diperkirakan masih berlangsung hingga satu dekade ke depan, Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia apabila mampu mencetak lebih banyak talenta STEM yang berkualitas. Sinergi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan industri menjadi kunci untuk melahirkan generasi insinyur, inovator, serta wirausahawan teknologi yang akan membawa Indonesia semakin kompetitif di kancah global. (red)





