JAKARTA – Bursa Efek Indonesia kembali berakhir merah pada perdagangan Kamis (24/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan level 6.300 setelah sepanjang sesi kedua terus mendapat tekanan jual.
IHSG ditutup di posisi 6.298,61, anjlok 76,31 poin atau 1,20 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level 6.374,91. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.368,57, tetapi kemudian merosot hingga titik terendah 6.287,46 sebelum sedikit beranjak saat penutupan.
Tekanan sudah terlihat sejak perdagangan sesi pertama. Saat jeda siang, IHSG berada di level 6.307,11 atau turun 1,06 persen. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual belum mereda setelah sehari sebelumnya indeks sempat melonjak 1,56 persen.
Salah satu perhatian utama datang dari arus dana asing. Pada sesi pertama, investor asing mencatat net sell sekitar Rp987,09 miliar, dengan nilai jual Rp2,74 triliun berbanding pembelian sekitar Rp1,75 triliun. Saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan, menjadi sasaran utama tekanan tersebut.
BMRI menjadi salah satu saham yang paling banyak dilepas asing dengan net sell sekitar Rp237,12 miliar pada sesi pertama. BBRI menyusul sekitar Rp90,69 miliar, sementara BBCA juga mencatat net sell sekitar Rp27,57 miliar. Tekanan serupa terjadi pada TLKM, BUMI dan sejumlah saham berkapitalisasi besar lainnya.
Dari sisi sektor, tekanan terjadi cukup luas. Pada sesi pertama, sektor barang baku terkoreksi 1,68 persen, industri turun 1,62 persen dan properti melemah 1,30 persen. Sektor keuangan juga berada di zona merah dengan penurunan 0,75 persen.
Di tengah pasar yang mayoritas melemah, sejumlah saham justru mencatat lonjakan. BIPP menjadi salah satu top gainer dengan kenaikan 33,85 persen ke Rp87, disusul UNSP yang melesat 25 persen ke Rp320 dan FORU naik 24,58 persen ke Rp294. Sementara di sisi bawah, MSIN turun 14,88 persen, BMTR 14,68 persen dan SAFE 14,62 persen.
Tekanan pasar juga berlangsung ketika rupiah berada di bawah tekanan terhadap dolar AS. Pada perdagangan Kamis, rupiah spot tercatat melemah sekitar 0,36 persen ke Rp17.862 per dolar AS. Pergerakan rupiah dan kenaikan imbal hasil surat utang Amerika Serikat menjadi faktor eksternal yang turut diperhatikan pelaku pasar.
Sebelumnya, Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman memperkirakan IHSG memiliki area support 6.320–6.340. Sementara KGI Sekuritas melihat IHSG berpotensi bergerak volatil dengan kisaran 6.300–6.425, di tengah pengaruh arus asing, rupiah, yield US Treasury dan harga minyak. Perdagangan Kamis akhirnya membawa IHSG menembus area support tersebut.
Dengan penutupan 6.298,61, perhatian pasar berikutnya tertuju pada kemampuan IHSG bertahan di area 6.200–6.300 serta apakah tekanan jual asing berlanjut pada perdagangan berikutnya. Pergerakan saham big banks seperti BBCA, BBRI dan BMRI juga menjadi salah satu indikator yang patut dicermati karena ketiganya ikut menjadi pemberat indeks dalam perdagangan hari ini. (red)





