BerandaOlahragaLautaro Bongkar Rahasia Messi: Bukan Kaki, Tapi Cara Berpikirnya yang Menangkan Argentina

Lautaro Bongkar Rahasia Messi: Bukan Kaki, Tapi Cara Berpikirnya yang Menangkan Argentina

TANGERANG – Di lembar statistik resmi FIFA, Lionel Messi hanya tercatat menyumbang dua assist saat Argentina menyingkirkan Inggris dengan skor 2-1 pada semifinal Piala Dunia 2026. Namun bagi Lautaro Martínez, angka itu sama sekali belum mampu menggambarkan besarnya pengaruh sang kapten di lapangan. Menurutnya, kemenangan Argentina justru lahir dari sebuah kalimat sederhana yang diucapkan Messi pada momen paling menentukan.

Gol dramatis Lautaro pada menit 90+2 memang berawal dari umpan akurat Messi. Namun penyerang Inter Milan itu mengungkapkan, proses gol tersebut sebenarnya sudah dimulai beberapa menit sebelumnya, ketika pertandingan masih imbang 1-1 dan tekanan terhadap Argentina semakin besar.

Saat itu, Messi mendatanginya tanpa banyak bicara. Sang kapten hanya memberi arahan singkat agar Lautaro terus menyerang ruang di antara dua bek Inggris, mengejar bola-bola atas, dan tidak berhenti melakukan pergerakan meski peluang belum juga datang.

“Serang ruang di antara bek mereka. Kejar bola-bola atas. Terus berlari,” ungkap Lautaro Javier Martínez, mengulang pesan yang disampaikan Messi kepadanya.

Instruksi tersebut langsung dijalankan. Berkali-kali Lautaro melakukan sprint ke ruang yang dimaksud, tetapi hasilnya nihil. Bola tak kunjung datang, sementara lini pertahanan Inggris masih mampu menutup setiap celah. Dalam situasi seperti itu, banyak penyerang biasanya memilih mengubah pola pergerakan. Lautaro pun sempat menoleh ke arah Messi, berharap mendapat instruksi baru.

Namun, respons Messi justru di luar dugaan. Alih-alih mengubah strategi, peraih delapan Ballon d’Or itu hanya memberi isyarat agar Lautaro tetap melakukan hal yang sama. Terus berlari. Terus percaya. Seolah-olah ia sudah mengetahui bahwa ruang yang selama ini tertutup akan terbuka pada saat yang tepat.

Momen itu akhirnya benar-benar datang. Di masa injury time, Messi menerima bola, mengangkat kepala, lalu mengirim umpan ke area yang sejak awal ia tunjukkan. Lautaro melakukan sprint dengan pola yang sama seperti sebelumnya. Kali ini tak ada lagi bek yang mampu menutup ruang tersebut. Satu sentuhan penyelesaian mengakhiri serangan itu menjadi gol kemenangan yang memastikan Argentina melangkah ke final Piala Dunia 2026.

Bagi Lautaro, itulah alasan mengapa Messi berbeda dari pemain lain. Publik mungkin akan mengingat dribel, gol, atau assist yang tercatat di papan statistik. Namun di balik semua itu, ada kemampuan membaca pertandingan beberapa langkah lebih cepat dibanding pemain lain, sekaligus memberikan keyakinan kepada rekan-rekannya untuk terus menjalankan rencana meski percobaan pertama gagal.

“Orang sering mengira Messi memimpin dengan kakinya. Padahal yang paling berharga justru kata-katanya,” ujar Lautaro, menggambarkan sosok kapten yang tak hanya menjadi pembeda lewat kemampuan individu, tetapi juga melalui kepemimpinan di tengah tekanan pertandingan.

Di usia 39 tahun, Messi memang tak lagi mengandalkan kecepatan seperti saat masih muda. Ia tidak lagi melewati lima atau enam pemain dalam satu aksi secara konsisten. Namun kecerdasan membaca permainan, memilih waktu yang tepat, serta kemampuan mengendalikan ritme pertandingan justru membuatnya tetap menjadi pusat permainan Argentina.

Kini Argentina hanya tinggal selangkah lagi menuju gelar juara dunia. Menghadapi Spanyol di partai final, La Albiceleste kembali berharap pada sosok yang sama. Bukan semata karena ban kapten yang melingkar di lengannya, tetapi karena seluruh tim percaya bahwa ketika Messi sudah melihat jalan menuju kemenangan, yang mereka perlukan hanyalah keberanian untuk terus berlari hingga momen itu benar-benar datang. (red)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru