TANGSEL – Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mulai bersiap menghadapi ancaman kekeringan yang berpotensi meluas hingga awal 2027. Fenomena El Nino yang memengaruhi pembentukan awan hujan menjadi salah satu faktor yang membuat musim kemarau tahun ini terasa lebih kering dan datang lebih cepat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangsel mencatat hampir seluruh wilayah kecamatan memiliki potensi terdampak kekeringan. Dari tujuh kecamatan yang dipetakan, Kecamatan Setu masuk kategori potensi bahaya sedang, sedangkan enam kecamatan lainnya berada dalam kategori rendah.
Sekretaris BPBD Tangsel Essa Nugraha mengatakan total wilayah yang memiliki potensi bahaya kekeringan mencapai 16.485,47 hektare. Luasan tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah dalam menghadapi kemungkinan kemarau yang berlangsung lebih panjang.
“Luas hektarnya yang memiliki potensi bahaya kekeringan itu 16.485,47 yang berpotensi terkena bahaya kekeringan,” kata Essa dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).
Menurut Essa, kondisi kemarau tahun ini juga menunjukkan perubahan pola dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika pada 2023 kemarau umumnya mulai terasa sekitar September hingga Oktober, pada 2026 dampaknya sudah dirasakan masyarakat sejak Juli.
“Kalau dulu di 2023 itu kemarau terjadi di September-Oktober, tapi tahun ini dari Juli sudah terjadi,” ujarnya.
Mengantisipasi dampak yang semakin besar, BPBD Tangsel mulai memperkuat langkah mitigasi, salah satunya dengan menyalurkan air bersih ke wilayah yang mengalami krisis air. Di sisi lain, penanganan juga mendapat dukungan dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan BNPB untuk kawasan Jabodetabek.
“Kekeringan ini sudah terjadi, lalu kemudian distribusi air bersih sedang kita lakukan. Selain itu, khususnya di Jabodetabek, BNPB sedang melakukan operasi modifikasi cuaca,” jelas Essa.
BPBD juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menggunakan persediaan air. Air bersih yang didistribusikan pemerintah sebaiknya diprioritaskan untuk kebutuhan konsumsi seperti minum dan memasak, sementara air hujan dapat ditampung untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan kakus (MCK).
“Bisa dipisahkan, sumber air bersih dari BPBD untuk kegiatan makan minum atau memasak. Lalu air hujan ketika turun ditampung untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK),” pungkas Essa. (red)





