JAKARTA – Tekanan terhadap pasar saham Indonesia belum benar-benar reda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Jumat (11/9/2026), memperpanjang tekanan setelah sehari sebelumnya indeks anjlok lebih dari 1 persen.
IHSG ditutup melemah 47,96 poin atau 0,73 persen ke level 6.541,38. Padahal sepanjang perdagangan indeks sempat terperosok hingga 6.462,96 sebelum akhirnya mampu mengurangi sebagian besar penurunannya menjelang penutupan.
Tekanan terlihat dari luasnya saham yang terkoreksi. Data perdagangan menunjukkan 471 saham melemah, sementara 197 saham menguat dan 295 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp14,71 triliun dengan volume 28,61 miliar saham.
Kondisi tersebut menunjukkan investor masih cenderung bermain aman. Sentimen global menjadi salah satu beban utama, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia yang membuat pasar kembali masuk mode risk off.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pelemahan IHSG dan bursa Asia dipengaruhi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak yang membebani sentimen investor.
Harga minyak menjadi perhatian karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi tersebut kemudian berpotensi memengaruhi kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko seperti saham. Harga Brent bahkan dilaporkan berada di sekitar US$108 per barel, sedangkan WTI sekitar US$104 per barel.
Tekanan juga datang setelah investor asing melakukan aksi jual besar pada perdagangan Kamis (10/9). Saat itu, asing mencatat net sell sekitar Rp1,95 triliun di seluruh pasar. Saham-saham bank besar ikut menjadi sasaran jual, termasuk BBCA dan BBRI.
Buat kawan yang sedang mengamati saham seperti BBRI, BBCA, BMRI, KLBF maupun saham-saham kecil, situasi ini penting dibaca sebagai kondisi pasar secara keseluruhan. Jangan langsung menganggap semua saham yang turun berarti perusahaannya bermasalah. Saat IHSG tertekan secara luas, saham bagus pun bisa ikut terseret arus jual.
Menariknya, beberapa saham tetap mampu mencuri perhatian ketika mayoritas pasar merah. Dalam perdagangan Jumat, saham yang aktif antara lain BUMI dan CUAN, sementara sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang tercatat menguat berdasarkan data penutupan yang dihimpun iNews.
Jadi, IHSG bakal terus jatuh?
Belum tentu, kawan. Justru level 6.463 yang disentuh Jumat menjadi area yang layak diperhatikan. Jika tekanan berlanjut dan level tersebut kembali ditembus dengan kuat, risiko koreksi lanjutan menjadi lebih besar. Sebaliknya, kemampuan IHSG bertahan di atas area 6.500 dan kembali merebut 6.550–6.600 akan menjadi tanda bahwa tekanan mulai mereda.
Untuk kita yang belajar saham dengan modal recehan, menurut saya ini bukan waktunya panik. Pasar sedang menguji kesabaran. Lebih baik perhatikan kualitas perusahaan, harga beli, arus asing dan kemampuan kita menahan volatilitas daripada buru-buru mengejar saham yang sedang bergerak liar. (red)





