Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaBantenTangerangTTG 2026 Tangerang: Karya Dua Siswi Ini Tak Sekadar Lomba, Tapi Solusi...

TTG 2026 Tangerang: Karya Dua Siswi Ini Tak Sekadar Lomba, Tapi Solusi Nyata untuk Masyarakat

TANGERANG – Di tengah hiruk pikuk Gedung Serba Guna Tigaraksa, ada cerita sederhana yang menyentuh. Dua pelajar berdiri di depan alat ciptaan mereka—bukan sekadar untuk lomba, tapi untuk menjawab kebutuhan nyata di masyarakat.

Adalah Naura Atanaya Aji dan Sabriya Belfaira, siswi SMA yang menghadirkan inovasi hidroponik pintar berbasis energi surya dalam Gelar Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) 2026 Kabupaten Tangerang.

Dengan penuh semangat, mereka menjelaskan bagaimana alat bernama BEI (Bio Energy in IoT Hydroponics) mampu mengatur nutrisi tanaman secara otomatis, bahkan bisa dipantau dari jarak jauh.

“Kalau nutrisi kurang, alat ini langsung menyesuaikan sendiri. Jadi petani atau pengguna tidak harus selalu di lokasi,” ujar mereka.

Bagi keduanya, inovasi ini bukan sekadar proyek sekolah. Ada harapan besar di baliknya—agar teknologi sederhana bisa membantu masyarakat bertani lebih mudah, lebih hemat, dan lebih efisien.

Cerita mereka menjadi gambaran bagaimana inovasi kini lahir dari generasi muda yang peka terhadap persoalan di sekitar. Hal ini juga ditegaskan Sekretaris Daerah Kabupaten Tangerang, Soma Atmaja, saat membuka kegiatan tersebut.

“Teknologi tepat guna harus benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Kita ingin inovasi ini bisa dirasakan langsung manfaatnya,” ujarnya.

Tak hanya dari pelajar, berbagai inovasi lain juga hadir, mulai dari alat pemantau pH tanah hingga teknologi pengolahan limbah rumah tangga. Semua membawa satu tujuan yang sama: mempermudah kehidupan masyarakat.

Kepala DPMPD Kabupaten Tangerang, Yayat Rohiman, menyebutkan bahwa lomba tahun ini diikuti puluhan inovator dari berbagai kecamatan, menunjukkan semangat besar untuk terus berinovasi.

Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan pada menciptakan alat, melainkan memastikan inovasi tersebut bisa berkembang dan benar-benar digunakan masyarakat.

“Jangan sampai berhenti di lomba. Inovasi ini harus kita dorong agar bisa dimanfaatkan luas dan berkelanjutan,” tegasnya.

Bagi Naura dan Sabriya, langkah mereka mungkin baru dimulai. Tapi dari sebuah ide sederhana di ruang kelas, kini lahir harapan—bahwa teknologi bisa menjadi jembatan perubahan, dari sekolah hingga ke desa. (red)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru