TANGSEL – Sisa makanan dari rumah, warung hingga pedagang buah di Kampung Ekowisata Keranggan, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, tak selalu berakhir di tempat pembuangan. Sejak 2021, limbah organik tersebut dimanfaatkan sebagai pakan dalam budidaya maggot.
Pengelola Budidaya Maggot Keranggan, Ade Sukarya, mengatakan prosesnya dimulai dari penetasan telur hingga menjadi larva. Setelah menetas, maggot dipelihara dengan pemberian sampah organik secara rutin sesuai kebutuhannya.
Bahan pakan itu berasal dari berbagai sumber di sekitar Keranggan. Selain limbah rumah tangga dan sisa makanan warung, pengelola juga memanfaatkan limbah pedagang buah serta sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Jenis sampah organik yang biasa diberikan ke maggot antara lain sisa makanan dari limbah rumah tangga, warung makan, sisa dari MBG, limbah pedagang buah, dan lainnya,” tutur Ade, Jumat (11/9/2026).
Menurut Ade, keberadaan budidaya maggot membuat masyarakat memiliki alternatif dalam menangani sampah organik. Limbah yang sebelumnya berpotensi langsung dibuang kini dapat dipisahkan sejak dari sumbernya untuk kemudian diolah.
“Manfaat yang kami rasakan dengan adanya budidaya maggot tentu sampah organik yang dihasilkan dari masyarakat Keranggan paling tidak berkurang, terpilah dan terolah dari hulu,” jelasnya.
Pengelolaan tersebut menjadi bagian dari konsep pengurangan sampah berbasis masyarakat yang dikembangkan di Kampung Ekowisata Keranggan. Pemilahan dari tingkat rumah tangga menjadi langkah penting agar sampah organik memiliki manfaat lanjutan.
Budidaya maggot diharapkan terus berkembang dan mendorong semakin banyak warga untuk terbiasa memilah sampah. Dengan cara tersebut, pengurangan sampah tidak hanya dilakukan setelah limbah terkumpul, tetapi dimulai sejak dari sumbernya. (red)





