SERANG — Langkah itu akhirnya sampai di ujung perjalanan. Setelah menembus jarak puluhan kilometer dari pedalaman Kanekes, masyarakat Baduy menutup rangkaian Seba Baduy 2026 pada Minggu (26/4/2026). Namun yang berakhir hanyalah perjalanannya—bukan pesan yang mereka bawa.
Sejak dini hari, mereka berjalan tanpa alas kaki. Dari hutan yang sunyi menuju pusat pemerintahan yang hiruk pikuk. Membawa hasil bumi, sekaligus membawa amanat leluhur yang tak pernah berubah: menjaga alam, menjaga keseimbangan hidup.
Prosesi penutup atau memuluk berlangsung khidmat. Rombongan Baduy dilepas untuk kembali ke tanah adat, setelah sebelumnya menyampaikan pesan langsung kepada pemerintah di Gedung Negara Provinsi Banten—tempat di mana tradisi bertemu kekuasaan.
Kepala Desa Kanekes sekaligus Jaro Pamarentah, Jaro Oom, menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi menggema kuat.
“Kami datang bukan hanya membawa hasil bumi, tapi membawa amanat karuhun (leluhur). Gunung ulah dilebur (gunung jangan dihancurkan), lebak ulah dirusak (daratan jangan dirusak), cai ulah dikotoran (air jangan dikotori),” ujarnya.
Kalimat itu terdengar tenang, tanpa emosi berlebih. Namun justru di situlah letak kekuatannya—pesan yang diwariskan turun-temurun, kini kembali disampaikan di hadapan dunia yang terus berubah.
Menurut Jaro Oom, Seba bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah kewajiban adat, bentuk komunikasi antara masyarakat Baduy dengan pemerintah yang mereka sebut sebagai “Bapak Gede”. Dalam tradisi ini, tidak ada yang dibuat-buat—semuanya berjalan sebagaimana mestinya, sebagaimana diajarkan leluhur.
Wilayah yang menjadi kewajiban untuk dilestarikan meliputi Sanghyang Sirah, Ujung Kulon, Gunung Honje, Panaiban, Ujung Genteng, Tanjung Lesung, Muara Tilu, Karang Bokor, Lawang Seketeng, Gunung jaga berkat, Gunung Karang, Gunung Badag (Gunung Gede Jawa Barat), Gunung Sanggabuana Jawa Barat, sampai Gunung Liman di Jawa Timur.
Gubernur Banten, Andra Soni, menyambut pesan tersebut dengan penuh penghormatan. Ia menilai, apa yang disampaikan masyarakat Baduy bukan hanya relevan, tetapi juga mendesak di tengah berbagai persoalan lingkungan saat ini.
“Apa yang disampaikan masyarakat Baduy adalah pengingat bagi kita semua. Mereka tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menjaga masa depan. Nilai ini harus kita jaga bersama,” ujarnya.
Selama tiga hari pelaksanaan, Seba Baduy 2026 tidak hanya menjadi ritual adat, tetapi juga magnet budaya yang menyedot perhatian ribuan masyarakat, wisatawan, hingga peneliti mancanegara. Di satu sisi, ekonomi bergerak. Di sisi lain, nilai-nilai lama kembali dihidupkan.
Namun di balik semua itu, satu pemandangan tetap menjadi pusat perhatian: langkah kaki tanpa alas dari masyarakat Baduy Dalam. Delapan jam perjalanan, tanpa keluhan, tanpa tuntutan. Sebuah pengorbanan yang terasa kontras di tengah kehidupan modern yang serba instan.
Ketika rombongan mulai kembali, suasana berubah menjadi hening. Dari pendopo menuju hutan, dari keramaian menuju kesunyian. Mereka pulang membawa satu hal yang sama—keyakinan bahwa apa yang mereka jaga tidak boleh hilang.
Seba Baduy mungkin telah selesai. Tapi pesan yang ditinggalkan justru semakin keras terdengar: bahwa ketika manusia mulai lupa menjaga alam, masyarakat Baduy tetap setia mengingatkannya—dengan langkah, bukan dengan kata. (red)





